Review Vandaria Saga: Harta Vaeran

Posted by Rickman Roedavan on 6:45 AM

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: N/A
Ilustrasi & Perancang Sampul: Ecky Oesjadi
Tata Letak: Mulyono
Pencipta Hikayat: Ami Raditya
Ilustrasi: Tim Ilustrasi Vandaria Wars
Tebal: 517 halaman

Pertama melihat cover Harta Vaeran, entah kenapa langsung naksir pengen beli, mungkin karena latar belakangnya yang cenderung putih bikin mencolok di antara hamparan cover warna-warni. (Sebenarnya, saya buru-buru beli juga karena takut ga kebagian novel ini di toko buku Depok yang kalo pagi-pagi diskonnya oke banget itu.) Gambarnya bagus tapi sayang posenya biasa banget. Andaikan pose pada bagian "Tokoh-tokoh" yang dipajang di depan pasti lebih sip tapi ga muat kali ya. Artwork-nya membuat saya tidak menyesal telah menjungkir balik dompet (supaya duitnya keluar banyak). Kritik untuk artwork-nya adalah kelima tokoh ini masih terlalu mirip untuk dianggap berasal dari ras-ras yang berbeda.

Kita balik ke halaman-halaman pertama, ada keterangan singkat mengenai "Tokoh-tokoh" utama, yaitu Karnthe Jahlnow (Pemburu Harta Karun), Saeliya Aerankah (Penyihir Tempur), Fukhoy-ri (Pengumpul Pengetahuan), Za'zestay Karin (Pedagang Pejuang), dan Certeus Kateriol (Pengelabu Mata). Tapi nama tokoh utamanya itu lho, kurang enak diucapkan. Alhasil setiap kali saya melihat nama Karnthe, saya tidak ikut mengucapkannya di dalam hati.

BTW, Saeliya mengingatkan saya kepada vampir wanita di Suikoden 2, Sierra Mikain. Mereka juga sama-sama penyihir, tapi Sierra molor mulu sementara Saeliya paling disiplin tampaknya, hahaha.

Mungkin karena sudah didukung oleh gambar, novelisnya sendiri malah terbatas dalam mendeskripsikan rupa para tokohnya. Tapi terlepas dari itu, karakterisasi kelima tokoh utama ini, baik dalam dialog maupun tindak-tanduk, cukup berciri khas. Saya paling suka reaksi mereka dalam keadaan terjepit: Karnthe menyebut-nyebut bapaknya (anak papa banget deh), Saeliya berdoa kepada Zahm, dll. Satu masalah dalam karakterisasi adalah ciri khas kebahasaannya kurang. Maksud saya, karena para tokoh utama ini berasal dari empat kerajaan yang berbeda, walaupun menggunakan satu bahasa ketika berkomunikasi, masa tidak terasa bedanya. Misalnya, kalau orang Indonesia, Arab, Amerika, dan Argentina berkumpul lalu mengobrol dengan bahasa Inggris, pasti sedikit-sedikit ada beda pemilihan kata atau struktur kalimatnya. Tapi ya kita anggap sajalah Karnthe dkk sama2 fasih sempurna dalam bahasa universal mereka.

Balik lembar berikutnya, lho kok langsung cerita? PETANYA MANA? T_T Jujur ini hal yang paling disayangkan dari novel Harta Vaeran. Dengan kuatnya tim ilustrasi Vandaria Wars, masa petanya ketinggalan?

Apesnya lagi, saya tidak mendapatkan bonus kartu yang dijanjikan *ratapan anak tiri*. Tapi saya berterima kasih kepada novelisnya sendiri, Pratama Wirya, yang sudah berusaha mencarikan gantinya, walaupun tidak dapat. Mungkin ada orang yang mengambil kartu jatah saya dan ini ganjaran karena waktu kecil saya pernah melakukan hal serupa untuk stiker hadiah produk keju (kualat 15 tahun kemudian), lol.

Alur cerita Harta Vaeran yang sederhana didukung oleh semesta Vandaria yang begitu kompleks, jadi sang Pencipta Hikayat, Ami Raditya, berperan besar di sini. Bagi pembaca yang awam dengan Vandaria Wars atau Vandaria Saga (seperti saya), coba baca dulu halaman-halaman terakhir Harta Vaeran. Di situ ada penjelasan singkat mengenai Tim Kreatif Vandaria Saga dan dunia fiktif-fantasi Vandaria.

Apa itu Vandaria Saga? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus tahu dulu Vandaria Wars, yaitu permainan kartu Indonesia yang pertama kali muncul sebagai bonus majalah ZIGMA pada tahun 2006. Vandaria Wars sudah punya banyak ekspansi, bahkan pernah digelar acara National Championship Vandaria Wars pada Agustus 2008.

Vandaria Saga sendiri adalah konsep dunia Vandaria Wars yang terpusat kepada persaingan dominasi manusia dengan frameless. Bisa kita lihat di situs resminya (vandaria.com) bahwa sejarah Vandaria bisa dibagi menjadi enam zaman, yaitu Era Tiga Negeri Awal, Era Kaum Naga, Era Negeri-Negeri Kuno Manusia, Era Kekuasaan Frameless, Era Persamaan Derajat Manusia-Frameless, dan Era Kekuasaan Manusia. Selain sejarah, hikayat Vandaria Saga juga meliputi metafisika, budaya, organisasi, negeri, tokoh, dan religi alam. Lengkapnya unsur-unsur Vandaria Saga yang telah disusun dengan rapi ini membuat kita bisa membayangkannya sebagai dunia yang utuh.

Harta Vaeran berlatar waktu Era Persamaan Derajat Manusia-Frameless. Namun, novel-novel Vandaria Saga yang akan menyusul mengambil latar waktu yang berbeda-beda, misalnya novel Sang Raja Tunggal yang saya tebak akan berlatar zaman sebelumnya, yaitu Era Kekuasaan Frameless. Novel Vandaria Saga lain yang baru terbit, Ratu Seribu Tahun (dengan harga lebih 'sadis' daripada Harta Vaeran), sepertinya mengambil latar zaman yang lebih lampau lagi. Meskipun garis besar sejarah Vandaria sudah dipaparkan di situs resminya, saya tetap berharap novel-novel Vandaria Saga bisa memberikan memuaskan pembacanya dengan informasi-informasi baru yang membuat kita berpikir… oooh, begitu rupanya!

Bisa jadi novelisasi Vandaria Saga memelopori setidaknya dua tren. Pertama, menggubah suatu franchise (selain film) menjadi novel. Ini pernah dilakukan oleh tim kreator seri game Assassin's Creed yang dua novel di antaranya sudah diterbitkan di Indonesia dan cukup laris (penerjemahnya, uhuk uhuk, saya sendiri *kabur*). Kedua, tren "Saga", maksud saya beberapa penulis berbeda menggarap novel masing-masing berdasarkan hikayat yang sama. Mungkin tidak semua pengarang suka melakukan ini, tapi senang juga kan melihat fikfanindo semakin ramai?

Bisa ditafsirkan juga bahwa semesta Vandaria Saga mengajak para penulis fantasi lokal untuk merangkai cerita yang lebih kokoh, dari masa terbentuknya peradaban hingga "masa kini" yang menjadi seting cerita pada novelnya, bahkan "masa depan". Tidak sabar rasanya melihat novel2 fikfan lokal nantinya yang terinspirasi dari lengkapnya sejarah Vandaria Saga.

Oke, mulai dari sini ada spoiler-spoiler ringan ya ^_^

Seperti kata saya tadi, inti cerita Harta Vaeran sederhana saja: Karnthe Jahlnow (grrr, ngetiknya aja salah mulu) mengikuti jejak ayahnya menjadi Pemburu Harta Karun. Meski sempat bimbang karena warga kerajaannya sangat menjunjung kekesatriaan, Karnthe memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Sewaktu ayah Karnthe, bernama Franks (kenapa namanya ga dituker aja ya ya ya???), membuka-buka hasil perburuannya yang terakhir, Karnthe menemukan simbol Harta Vaeran yang legendaris. Vaeran Irvanaah sendiri adalah frameless (ras mirip manusia yang berkekuatan sihir) penyihir legendaris yang hidup beberapa ribu tahun sebelumnya. Dikirimlah Karnthe ke kota untuk bertemu mantan rekan satu tim ayahnya, yaitu Saeliya. Dalam perjalanan, mereka bergabung dengan Fukhoy-ri, Certeus, dan Karin. Setelah menempuh berbagai petualangan unik dan rintangan antik, apakah akhirnya mereka mendapatkan Harta Vaeran yang paling berharga?

Sebagian dari hikayat Vandaria Saga yang diungkit dalam Harta Vaeran adalah bahwa ribuan tahun yang lalu ada kerajaan adikuasa bernama Edenion. Konon kerajaan ini diskriminatif dalam arti mengagungkan frameless dan mengucilkan manusia. Karena tidak setuju dengan diskriminasi ini, Sang Raja Tunggal mendirikan Kerajaan Nirvana yang menjunjung permsamaan derajat antara frameless dengan manusia. Dengan semakin kuatnya Nirvana, perang pun tak terelakkan untuk menentukan kerajaan mana yang terkuat di dunia Vandaria. Nirvana menang dan Sang Raja Tunggal berkuasa hingga masa hidupnya Karnthe dkk. Dengan runtuhnya Edenion, lahirlah negeri-negeri baru, termasuk Kerajaan Blackmoon tempat kelahiran Karnthe. Disebutkan bahwa keluarga Irvanaah adalah keluarga frameless yang berpengaruh dalam tampuk kepemimpinan Kerajaan Nirvana, tapi tidak diungkit-ungkit apakah Vaeran sendiri pernah berperan dalam politik.

Keluhan utama saya adalah novel setebal 517 halaman ini tidak punya twist, bahkan tidak ada konflik internal yang berbuntut panjang. Misalnya, Saeliya yang frameless murni sempat memandang rendah Fukhoy-ri yang separuh frameless (cuma memandang dengan dingin, sama sekali tidak seseru Draco Malfoy mengatai Hermione "Mudblood" lalu Hermione balas menggampar Malfoy). Saeliya dengan mudah mengalah setelah dicecar oleh Karnthe (yay! berhasil ga salah ketik! oh well…).

Konflik lain di dalam kelompok mereka adalah keraguan Karnthe dkk terhadap Karin. Siapakah Karin sebenarnya? Apakah Karin malah sengaja menjebloskan mereka ke dalam marabahaya? Lagi-lagi, mereka dengan mudah mempercayai Karin hanya dalam beberapa halaman.

Saya juga gemas karena setelah selama ratusan halaman bertanya-tanya siapakah itu sebenarnya Vaeran Irvanaah, tidak ada jawaban yang memuaskan. Karnthe dkk melanglang buana menghadapi petunjuk dan rintangan yang mengindikasikan kenyentrikan sang penyihir, misalnya Vaeran mengurung penyair kesukaannya yang dia anggap tidak menggubah syair bermutu lagi. Tapi semua itu terlupakan begitu saja pada akhir cerita, seakan-akan yang penting Karnthe dkk sudah mendapatkan harta dan kekuatan, bukan pencerahan mengenai siapakah dan seperti apakah Vaeran Irvanaah sebenarnya.

Bagaimana dengan petualangan dan rintangan-rintangannya? Rintangan pertama, menjarah petunjuk Harta Vaeran dari museum (yap, museum, as boring as it seems) seperti ada hanya demi menghadirkan tokoh Certeus. Memang mereka harus repot-repot menjalankan misi meringkus kelompok pemberontak di ibukota Kerajaan Nirvana, tapi tapi tapi bagi saya yang merindukan petualangan besar di tempat yang eksotis, bagian ini membuat saya tersendat-sendat membaca Harta Vaeran.

Saya suka cara pengarang mencari jalan keluar untuk rintangan-rintangan selanjutnya, cerdas! Karnthe dkk bahkan memanfaatkan sifat alami frameless untuk membebaskan diri dari kunkungan kaum ini. Lumayan cerdas juga untuk bagian pemecahan petunjuk2 dari Vaeran yang nyentrik tapi jangan berharap petunjuk2nya serumit film National Treasure juga ya.

Bisa jadi hal lain yang sempat menyulitkan saya membaca Harta Vaeran adalah gaya bahasanya… terlalu terjemahan. Berkali-kali saya berpikir "kalimat ini kan bisa diterjemahkan menjadi seperti ini". Ada terlalu banyak kata "adalah", "apakah", dan "sebuah", termasuk dalam dialog, sehingga penuturannya terasa agak kaku. Juga ada banyak pengulangan seperti "mereka melakukan ini. mereka melakukan itu. mereka melakukan hal lain lagi" (struktur kalimat yang sama dengan subjek yang sama digunakan tiga kali berturut-turut).

Tapi pada dasarnya penulisan Harta Vaeran sangat rapi, jadi setelah terbiasa dengan gayanya, kita bisa lancar membacanya. Ada sedikit salah eja, tapi masih bisa ditoleransi (tidak sampai sepuluh kali dari 520-an halaman). Cuma pada halaman 212 ada satu paragraf yg berisi 3 kalimat langsung dari tokoh2 yg berbeda (sengaja atau lupa pencet enter?)

Satu hal yang perlu dipertanyakan, kenapa peran Karnthe sebagai tokoh utama kadang-kadang tenggelam oleh tokoh-tokoh lain? Mencolok semborononya iya, hahaha. Tokoh yang paling sering mengerahkan kekuatannya adalah Saeliya, akalnya adalah Fukhoy-ri. Karnthe sendiri baru mikir setelah ditampar Saeliya (oke di bagian ini asli lucu deh xD ). Tapi tidak apa-apalah, Karnthe banyak berguna di petualangan terakhir.

Oiya, keluhan sampingan saya berhubungan dengan bocoran ending novel Vandaria Saga lainnya, tepatnya Sang Raja Tunggal. Endingnya, yaitu kerajaan mana yang menang, blak-blakan disebutkan dalam Harta Vaeran. Sebenarnya ini tidak jadi soal bagi pembaca yang sudah lama mengenal Vandaria Saga, tapi bagi pembaca baru seperti saya, itu spoiler berat T_T. (Umm, bagi yang tidak suka spoiler juga sebaiknya jangan berkunjung ke laman hikayat di vandaria.com.)

Pada akhirnya, Harta Vaeran layak dikoleksi walaupun jelas masih jauh dari sebuah mahakarya. Harganya berat sih, jadi diskon atau buntelan rasanya wajib menyertai cara Harta Vaeran sampai ke tangan kita ;)

Ditulis oleh Melody Violine + Dicopas tanpa ijin dari Fikfanindo (Huahahaha)



Catatan:
Tadinya gue mau nulis review buat buku ini. Namun karena satu dan lain hal, gue mengurungkan niat itu karena gue sendiri tengah mengikuti kontes cerita pendek Vandaria. Jadi kalu gue ngoceh macem2 soal ini novel ini, wah bisa digantung gue sama anak2 Vandaria, huahaha

Well, secara garis besar novel ini punya potensi bagus buat jadi novel yang bagus. Gue cuma sedikit terganggu dengan beberapa kalimat: "sekarang mari kita terbang ke..." dan semacamnya. Jujur kalimat itu ganggu banget. Tapi selebihnya, lumayan. Pencarian hartanya juga asyik. Khas game2 RPG. Dan satu lagi, gue ga suka sama karakter utamanya. Abis namanya Karnthe (coba deh lo baca keras2, berasa aneh ga tu nama?), kenapa nggak Alexander, Arthur atau apa kek yang lebih keren dikit. Yah, ini mah masalah selera kok. 

Terakhir, catatan dari gue adalah... gue BELI buku ini. Asli. Di Togamas buah batu dapet diskon 15%. Lo ga percaya? Perlu gue scan nih kuitansi pembeliannya? Jadi pada intinya, buat lo semua yang mengaku orang Indonesia - belilah produk2 fantasy lokal (sebagaimana lo beli novel gue nanti kalo udah terbit, huahahahaha)


Kobarkan Semangat Imajinasi.


 


Related Post:

0 Comment:

Post a Comment

Search Site