The Pantomime

Posted by Rickman Roedavan on 6:49 AM


Gadis cantik berbola mata indah itu bernama Irene Fleuretta. Rambutnya pirang panjang terurai. Sedikit berombak dan semakin cantik bila tertiup angin. Senyumannya manis sekali. Begitu memesona dan sedap dipandang berlama-lama. Ada ratusan gadis cantik di universitas Paris I Pantheon-Sorbonne, namun hanya satu gadis itu yang benar-benar telah mencuri sekeping hatiku.          

Terus terang aku ingin sekali bisa berkenalan dengannya. Bercengkrama, sekedar minum kopi di La Cappanina, menonton bioskop atau mendengarkan musik jazz di Crocojazz. Terlepas apakah dia menyukai musik jazz atau tidak. Yang jelas aku ingin sekali bisa mengajaknya kencan. Masalahnya, sebagai putri satu-satunya dari keluarga kaya Raymond Quienton, aku sangsi dia mau berkencan denganku. Manusia paling ‘tak kasat mata’ jika sudah berhadapan dengan wanita.

Aku memang bukan Valentin Tristan. Mahasiswa dari jurusan hukum yang selalu mengendarai Lexus kemana pun dia pergi. Aku juga bukan Simon Narcisse. Bintang lapangan sepak bola kampus yang berhasil membawa tim menjadi juara. Aku hanyalah Piere Serge. Seorang mahasiswa biasa dari jurusan seni. Tampangku pas-pasan. Prestasi akademikku payah. Dan soal popularitas lebih baik jangan ditanya.

Duh, Irene Fleuretta. Menyebut namanya sudah membuatku bahagia. Teman-temanku selalu menertawakanku jika aku sudah bercerita tentangnya. Mereka semua menyarankan agar aku melupakannya dan kembali kepada realita. Jangan seperti pungguk konyol yang merindukan bulan bercahaya indah. Namun, bayang-bayang dirinya terlalu kuat. Aku sama sekali tak bisa melupakannya.

L'amour peut rendre les gens fous. Cinta bisa membuat seseorang menjadi gila. Begitulah yang sering kudengar dari orang-orang. Kalimat yang biasanya tak pernah kuperdulikan itu, kini malah menjadi kalimat yang membuatku tak bisa tidur. Kepalaku kini dipenuhi jutaan ide hanya untuk bisa berkenalan dengannya. Ide-ide yang menurut sebagian orang adalah kreatif, dan bagi sebagian lainnya adalah gila. Sangat gila. Dan berhubung aku sedang jatuh cinta, menjadi gila tidak menjadi masalah bukan?

Aku mematung cukup lama memandangi cermin. Bukan memandangi pantulan wajahku yang biasa. Melainkan wajahku yang sudah dipoles putih pucat seperti hantu. Sedikit warna hitam pada bagian mata, dan bibir. Salah satu make up khas seorang pantomime. Eh? Memangnya aku belum cerita jika selain kuliah aku juga bekerja sebagai seorang pantomime di sebuah teater kecil?

Sebenarnya aku sudah lupa. Sejak kapan aku menyukai pantomime. Mungkin sejak aku berumur sebelas tahun, atau mungkin lebih muda lagi. Aku suka saat melihat mereka beratraksi di jalanan. Bergerak tanpa suara dan hanya menunjukkan gerakan serta ekspresi wajah konyol. Lucu. Menghibur. Dan menurutku, memiliki nilai seni yang sangat tinggi.

Aku senang membawakan peran ‘si manusia bisu’ itu di atas panggung. Beratraksi terjepit pintu, kecipratan air panas, menabrak tembok atau belasan adegan konyol lainnya. Kadang aku juga menggabungkan pertunjukkanku dengan beberapa tipuan sulap sederhana. Bukan sebuah ilusi yang bisa membuat mereka tercengang, tapi cukup untuk membuat mereka sekedar terkekeh.

Dan tentunya aku lebih senang ketika pemilik teater memberiku bayaran yang lumayan setiap kali habis manggung. Jujur saja, aku tak pernah sekali pun berpikir untuk menunjukkan kemampuanku ini di hadapan Irene. Ini yang pertama kali. Dan aku harap semuanya berjalan dengan lancar.
***

Dari kejauhan aku bisa melihat Irene dan beberapa temannya sedang duduk-duduk di depan bundaran Pantheon. Sebuah tempat mangkal anak-anak kampus yang lumayan ramai.  Ini kesempatanku. Tanpa berpikir panjang aku berjalan cepat menghampiri mereka. Setiap langkah rasanya membuat jantungku berdebar semakin kencang.

“Hei, lihat. Ada pantomime.” tunjuk salah seorang temannya.

Irene berpaling dan mengernyitkan dahinya saat melihatku. Kelihatannya dia tidak begitu suka. Bahkan cenderung merasa jijik. Tapi aku tak bisa mundur lagi. Sudah kepalang tanggung. Aku pun mendehem-dehem pelan. Tanpa suara tentu saja. Lalu berjalan lucu mendekatinya. Mengeluarkan sebuah tisu putih dari balik celanaku. Dan memperlihatkannya kepada mereka semua. Sebelah sini kosong. Sebelah sini juga kosong.

“Apa yang dia lakukan?” tanya Irene masih dengan kening berkerut. Tangannya bergerak pelan memegangi sahabatnya. Bersiap untuk kabur.

Oh, tidak! Ini tidak baik. Aku mulai bisa merasakan nada cemas dalam suaranya. Harus bergerak cepat. Aku rangkai tisu itu menjadi sebuah kerucut. Memegangnya erat di tangan kananku, mengambil sebuah pemantik dengan tangan kiri. Membakarnya. Dan voila! Tisu ditanganku pun berubah menjadi setangkai bunga mawar merah.

“Wow!” mereka semua terkejut.

Incroyable! Bagaimana kau melakukannya?” tanya Irene melotot.

Kali ini aku bisa merasakan kekaguman dalam suaranya. Syukurlah. Kelihatannya trik sulap milik David Copperfield itu masih cukup ampuh untuk membuat para gadis terpesona. Ah, andai mereka tahu berapa franc yang harus kukeluarkan untuk membeli properti sulap sekali pakai itu.

Eh bien, sudahlah. Yang penting Irene tak lagi menganggapku sebagai makhluk aneh berbaju hitam dari planet antah berantah. Aku pun membungkuk, berpose layaknya seorang Romeo yang sedang menyatakan cinta pada Juliet dan memberikan setangkai bunga mawar merah itu padanya. Irene pun tertawa. Tawa lepas yang pertama kali kudengar dari jarak dekat.

Oh mon Dieu! Dia cantik sekali.

“Untukku? Merci!” katanya sambil tersenyum

Tapi pertunjukan belum berakhir sampai di situ. Aku mendadak bertingkah seperti lupa akan sesuatu. Aku merebut kembali bunga itu dari tangannya. Membuatnya keheranan. Menghirup aroma bunga itu dalam-dalam dengan hidungku. Dan bola mataku langsung berputar-putar. Aku bersikap seolah ingin muntah.

Ya ampun! Bau sekali bunga ini!

Aku pun mengambil sebotol parfum dari balik sakuku. Menyemprotkannya ke bunga itu, dan kembali memberikannya kepada Irene.

Tidak seperti yang pertama. Kini gadis manis itu tidak tertawa. Sorot matanya tampak berbeda. Dia mencoba mencium wangi yang berasal dari setangkai bunga itu. Kemudian senyumannya merekah. Semakin lama semakin melebar. Kelihatannya dia seperti mencoba setengah mati agar tawanya tidak tersembur keluar.

Evaflor Fleur d’Eva. Itu parfum yang selalu kupakai. Bagaimana kau tahu aku suka parfum itu?” katanya penasaran.

Ah, waktunya untuk pergi. Aku pura-pura melihat jam, dan berekspresi seolah aku sudah memiliki janji yang sangat penting sampai-sampai tak bisa menjawab pertanyaannya.

“Oh baiklah, kau mulai menyebalkan!” katanya sambil tertawa, “Cepat katakan padaku! Kau ini sebenarnya siapa sih?”

Aku menunduk pamit. Dan buru-buru berlari dari sana. Tapi mendadak saja aku menabrak sesuatu, dan terjatuh berguling-guling. Gadis-gadis itu sontak menjerit kaget. Aku bisa merasakan jantung mereka sesaat berhenti melihat aksiku tadi. Aku pun kembali berdiri. Bersikap jaim. Membersihkan baju dan celanaku dari debu. Berjalan ke tempat tadi dan membuka pintunya terlebih dahulu. Ya, aku memang lupa. Bukankah di depanku ini ada sebuah ‘pintu’?

Tu es Fou!” Irene dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak.
***

Sudah tiga minggu lebih aku menghibur Irene dan teman-temannya. Beberapa dari mereka bahkan sudah ada yang berani kurang ajar untuk melihat wajah asliku. Kelihatannya mereka benar-benar penasaran. Termasuk Irene. Jujur saja aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertingkah konyol seperti di hadapannya. Tapi setelah aku pikir-pikir, selama aku bisa membuatnya tertawa, selama aku bisa membuatnya tersenyum, aku rela jika dia mengenalku hanya sebagai sang pantomime.

Siang ini setelah selesai berdandan, aku langsung pergi ke bundaran Pantheon seperti biasa. Suasananya lebih ramai. Beberapa tenda kecil tampak didirikan di pinggir jalan. Kelihatannya akan ada sebuah bazaar. Tapi aku tak terlalu perduli. Bukan itu tujuanku kemari.

Dari kejauhan aku melihat mereka semua sudah berada di sana. Kesempatan untuk menunjukkan beberapa trik sulap dan gerakan yang baru. Namun siang itu, terjadi sebuah insiden yang berada diluar dugaanku. Sebuah insiden yang bahkan tak bisa kupercaya dengan kepalaku sendiri.

Kejadiannya sangat cepat. Sepasang lelaki bertubuh kekar tiba-tiba saja mendatangi Irene dan teman-temannya yang sedang duduk di tangga batu. Mereka menodongkan pistol dan menyeretnya tanpa banyak berbicara. Sontak saja kejadian itu membuat orang-orang sekitarnya menjadi panik. Irene meronta-ronta sambil menjerit histeris. Beberapa orang yang lewat mencoba menolongnya. Namun mereka dihajar oleh satu orang dari mereka. Dia juga mengeluarkan pistol, membuat semua orang semakin ketakutan.

Tak lama setelah itu, sebuah sedan hitam meluncur cepat dari arah utara. Mereka bertiga masuk ke dalamnya dan pergi secepat kilat. Sangat profesional. Hanya dalah hitungan detik, Irene raib bersama orang-orang tak dikenal. Teman-temannya menjerit histeris. Mereka semua terlihat ketakutan. Beberapa orang yang melihat kejadian itu langsung menghubungi polisi. Gila! Situasinya kacau sekali.

Dan aku hanya bisa berdiri mematung di tempat ini. Perasaanku hancur. Kakiku lemas. Aku seperti kesulitan untuk bernapas. Rasanya seperti mimpi. Tapi ini nyata kan? Irene benar-benar diculik? Dia diculik tepat didepan mataku? Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka menculiknya? Kenapa? Apa yang mereka inginkan?

L'amour peut rendre les gens fous. Aku semakin yakin jika cinta memang bisa membuat seseorang menjadi gila. Dan orang yang sudah gila akan melakukan apa saja tanpa berpikir panjang. Atau dalam kasusku, aku sama sekali tak berpikir. Badanku seperti bergerak sendiri. Aku pun langsung berlari mengejar mereka. Berlari kencang menyusuri jalan utama Laplace yang ramai.

Aku sedikit berharap semoga aku memiliki kekuatan super hero. Layaknya The Flash sehingga aku bisa mengejar para penjahat itu. Tapi sebuah motor pengantar pizza yang terparkir di pinggir jalan membuatku berpikir lain. Aku ambil motor itu dan memacunya kencang. Si tukang pengantar pizza kaget. Dia berteriak keras mengumpatku.

“Hei! Itu motorku!”

Pardonnez moi, monsieur. Saat ini aku sedang mengejar penjahat. Nanti setelah menghajar mereka, aku berjanji akan kembalikan motormu. Err... tidak janji juga sih. Soalnya perasaanku kali ini sedikit buruk.

Aku melaju kencang di antara mobil-mobil yang berlalu lalang. Sebagian turis asing di pinggir jalan memandangku keheranan. Ya, kelihatannya baru kali ini mereka melihat ada seorang pantomime yang mengendarai motor. Sebagian dari mereka mencoba untuk memotretku. Anak-anak kecil menunjukku antusias. Mereka menjerit-jerit. Sialnya aku sedang buru-buru. Jika tidak, aku pasti akan memberikan cengiran khas Pantomime pada mereka.

Nah, itu dia! Mobilnya sudah tampak. Sedan hitam yang menculik Irene. Penglihatanku tajam juga rupanya. Aku takkan melepaskannya. Mobil itu melaju semakin kencang dan aku menguntit persis di belakangnya. Jujur saja, baru kali ini aku memacu motor kesetanan seperti ini.

“Kelihatannya ada seseorang yang mengikuti kita.”

“Oh ya? Siapa?”

“Entahlah. Tapi orang itu berdandan seperti Harlequin.”

“Harlequin?”

Nah, ternyata mereka mulai menyadari kehadiranku. Mereka melaju semakin kencang dan berbelok memasuki jalan Valette yang panjang. Aku tak mau kalah. Motor kupacu cepat. Berzig-zag melewati mobil-mobil yang melintas. Sampai aku berhasil melaju persis di samping mereka. Dari sini, aku bisa melihat dengan jelas wajah ketiga penculik itu.

Si ceking pengemudi mobil dengan kumis tipis dan bekas luka dipipi kirinya. Si badan kekar dengan brewok dan tato. Serta si pelontos yang menodongkan pistol tadi. Wajah mereka semuanya galak, mengerikan, dan juga jelek. Jenis wajah yang sangat pantas dimiliki oleh para penjahat.

Cepat bebaskan Irene, bodoh! Berani sekali kau menculik gadis yang kucintai, hah? Bebaskan dia! Atau aku tendang pantat kalian semua sampai mencium bulan!!

Aku mengucapkan semua kalimat itu dengan tegas, jelas dan lugas. Tapi aku merasa orang-orang itu sama sekali tak mengerti apa yang kukatakan. Ah, ya. Tololnya aku. Aku sama sekali tidak berbicara. Aku hanya menggunakan ekspresi wajah konyolku saja. Aku ini kan pantomime. Bahkan dalam keadaan terdesak pun aku masih saja terlalu menjiwai peranku.

“Apa-apaan dia itu?”


“Cepat singkirkan!”

Si ceking segera memutarkan kemudi. Mencoba menabrakkan mobilnya. Aku kaget. Sama sekali tak menyangka tindakannya itu. Motorku oleng. Aku hilang keseimbangan dan akhirnya jatuh berguling-guling beberapa meter. Tubuhku terlempar dan terseret di jalanan beraspal.

Rasanya sakit sekali! Tulang punggungku terasa remuk. Untungnya aku selamat. Aku rasa sih begitu. Seluruh tubuhku juga kelihatannya masih utuh. Aku mencoba berdiri dan suara klakson terdengar nyaring dari belakang. Aku menoleh. Dan sebuah truk besar melaju kencang ke arahku.

Oh mon Dieu! Aku tak sempat menghindar.

Ckieeeeeet!!

BRAAK!!
***

Di tempat ini semuanya berwarna sama. Mulai dari gedung-gedung tinggi yang menjulang. Toko-toko yang berderet di pinggir jalan. Sampai langit, awan dan matahari. Semuanya serba hitam putih. Hambar. Tanpa sentuhan warna-warna yang lain. Aku berdiri di tengah jalan sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Mereka berbicara, bercengkerama, tertawa, bahkan beberapa dari mereka berteriak kesal karena suatu hal. Aku melihat mulut mereka. Aku melihat urat-urat di leher mereka. Mereka benar-benar berbicara. Tapi... aku tak bisa mendengar suaranya. Mereka semua bisu. Tanpa suara.

Ini di mana? Aku ada di mana?

Seseorang mencolek pundakku pelan. Ketika aku menoleh aku sedikit terkejut karena yang ada di hadapanku adalah aku sendiri. Aku yang lain, mungkin. Dia berpakaian seperti layaknya aku jika tidak sedang mengenakan make up. Orang itu adalah aku. Dia berbicara panjang lebar. Mencoba membuatku mengerti. Aku katakan tidak. Aku tidak mengerti. Tapi aku tiba-tiba sadar. Aku pun tak bisa berbicara. Suaraku hilang.

Kenapa ini? Apa yang telah terjadi?

Aku yang ada di depanku menepuk pundakku lagi. Seperti mencoba menyadarkanku. Dia merogoh saku celananya dan memperlihatkan sebuah foto berukuran 3x4. Foto Irene Fleuretta. Foto yang sempat kucuri dari buku perpustakaan kampus. Satu-satunya foto Irene yang kupunya. Foto yang kecil. Tanpa warna. Hitam putih. Aku yang itu mengucapkan satu kalimat. Bibirnya terus mengulangi kata-katanya berkali-kali.

Kalimat yang pada akhirnya bisa kuterjemahkan sebagai: Jangan terlalu lama berada di tempat ini, sobat. Cepat selamatkan dia!

HAH!

Aku pun terbangun secara tiba-tiba. Sedikit kesal karena terhalang oleh selimut putih yang menyelimuti seluruh tubuhku. Beberapa anggota medis yang berada disekitarku terlonjak kaget. Mereka melotot. Seperti baru saja melihat hantu.

“A-apa? Dia masih hidup?”

“Tak mungkin! Jantungnya tadi sudah berhenti berdetak!”

Aku menatap mereka semua balas keheranan. Memperhatikan situasi sekitar yang kelihatannya semakin kacau. Jalanan macet. Polisi di mana-mana. Truk yang tadi menabrakku berada tak jauh dari sana. Aku bahkan bisa melihat sang sopir menunjukku sambil melotot. Kenapa dia? Sekelebat ingatan melintas di kepalaku. Ingatan ketika aku ditabrak truk itu dan... hei! Tunggu dulu! Bukankah aku baru saja ditabrak truk? Bagaimana mungkin aku masih hidup.

Aku memandangi jari jemari tanganku sendiri. Aku meraba wajah dan pipiku. Semuanya sehat. Semuanya selamat. Aku baik-baik saja bahkan setelah ditabrak truk sebesar itu. Kok bisa? Keajaiban? Ah, sudahlah. Sekarang bukan saatnya aku mengkhawatirkan soal itu. Sekarang, keselamatan Irene adalah prioritas utama.

Aku pun berlari kencang sekuat tenaga. Sama sekali tak memperdulikan pandangan orang-orang di sekitarku. Tapi tiba-tiba aku berhenti. Kebingungan. Irene ada di mana? Para penjahat itu pergi ke mana? Aku sama sekali tidak tahu. Sial. Aku mengacak pinggang dan memandang sekeliling. Pandanganku lalu tertuju pada sebuah pintu yang terletak persis di tengah jalan.

Eh? Sejak kapan pintu itu ada di situ?

Aku berjalan mendekatinya. Konyol sekali ada orang yang menyimpan sebuah pintu persis di tengah jalan seperti ini bukan? Dari dekat pintu tampak seperti pintu biasa. Sama sekali tak ada istimewanya. Aku sentuh dan raba sana-sini. Semuanya nyata. Aku buka kenopnya dan terkejut saat melihat ke dalamnya. Pintu itu ternyata mengarah ke sebuah ruangan yang tak kukenal. Ajaib sekali. Dari dalam ruangan aneh itu aku pun bisa mellihat Irene. Dia diikat pada sebuah kursi. Tanpa ragu-ragu, aku pun masuk ke dalamnya.

“Eh?” Semua orang di sekitar lokasi kecelakaan melotot tak percaya.

“Apa kau melihat apa yang aku lihat?”

“Orang berpakaian pantomime itu... bagaimana caranya dia bisa tiba-tiba lenyap di tengah udara?”
***
Ngg!!

Irene menjerit saat pundaknya kutepuk. Untungnya mulutnya sedang disumpal jadi teriakannya tak terdengar. Dia melotot saat melihatku. Aku segea membuka sapu tangan yang menyumpal mulutnya dan melepaskan ikatannya.

“Kau!” katanya heran, “Aku tadi lihat kau terjatuh dari motormu. Dan....” Dia tak jadi meneruskan ucapannya. “Bagaimana bisa?”

Aku mngibaskan tangan. Ini bukan waktunya untuk membahas soal itu. Ayo! Sebaiknya kita pergi dari sini!

“Kemana? Kau akan membawaku kemana?” Irene panik saat aku menarik tangannya dan menyuruhnya mengikutiku.

Aku akan membawamu ke sebuah pintu ajaib. Ini dia, tunjukku pada sebuah pintu.

“Toilet?”

Bukan toilet. Tapi pintu ajaib. Aku buka pintu dan bengong sendiri. Loh kok? Kenapa jadi toilet? Padahal tadi aku keluar dari sini.

“Kau mengajakku ke toilet?”

Oh, bukan! Bukan. Sama sekali bukan. Aku bukan lelaki berpikiran kotor jika itu yang kau maksud.

“Apa kau tidak bisa bicara?” katanya frustasi

Tentu saja bisa. Sejak tadi aku sudah berbicara bukan? Eh? Tunggu dulu. Tes... tes... Aaaaaaa.... waduh? Aku meraba leherku sendiri. Ada apa ini? Kenapa aku jadi tidak bisa bicara?

“Kau ini kenapa sih? Ini bukan waktunya bermain pantomime!!”

Siapa yang sedang bermain pantomime? Aku tidak sedang..., ya ampun. Kenapa di saat seperti ini suaraku malah hilang sih? Sudah! Sudah! Tenang. Yang penting sekarang, ayo kita keluar dari sini.

Cklek!

Pintu ruangan itu terbuka. Seorang lelaki berkepala plontos melotot saat melihatku bersama Irene.

“Kau?! Kenapa kau ada di sini, hah?”

Ketahuan!

“Kurang ajar!” teriak si pelontos. Dia mendekatiku sambil memamerkan badan kekarnya. Aku langsung berdiri di depan Irene. Mencoba melindunginya.

Dengarkan aku, botak! Kalau kau ingin berbuat macam-macam terhadap Irene, langkahi dulu mayatku!!
Dia mencengkeram bajuku, mengangkatku dengan mudah dan menyeringai seram. Baiklah, soal melangkahi mayat itu aku hanya bercanda. Bisakah kita bernegosiasi?

“Aaaakh!!” Irene menjerit saat melihat aku dilempar keras sampai menghantam meja dan kursi. Bukannya aku mau mengeluh, tapi rasanya memang menyakitkan.

Aku segera berdiri dan langsung memberinya sebuah tinju keras.

Bletak!

Sakiiiiiiiiiit!!

Aku melonjak-lonjak kesakitan. Sial! Kepala si botak ternyata lebih keras dari dugaanku.

“Puh! Dasar badut! Akan kuhajar kau!”

Ternyata aku memang payah. Sesaat sebelum dia menghajarku, aku melihat sebuah pemukul baseball. Entah sejak kapan benda itu ada di sebelahku. Aku mengambilnya menghajar kepalanya dengan keras.

Bugh!

Si pelontos langsung terhuyung. Kelihatannya seranganku telak juga.

“A-apa? Bagaimana kau..”

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, aku hajar kepalanya sekali lagi. Lebih keras dari yang pertama. Membuatnya tubuhnya yang gempal rubuh mencium lantai. Aku pun bersorak gembira. Rasakan itu, botak!

Ayo, Irene! Ayo, kita kabur!

“Apa yang kau lakukan barusan? Kau memukulnya dengan apa?” Irene melotot keheranan. Dia malah merapat ke tembok mundur sambil menatapku ketakutan.

Aku bengong. Pertanyaannya aneh sekali? Bukankah jelas-jelas aku tadi menghajar si botak itu dengan pemukul baseball. Tapi aku jadi celingukan bego. Pemukul yang tadi kupakai kemana ya? Kok hilang? Rasanya semua ini jadi semakin tak masuk akal saja.

Baiklah, soal pemukul itu akan kupikirkan penjelasannya nanti. Tapi bisakah kita pergi sekarang? Ada banyak penjahat di tempat ini bukan? Aku menggunakan seluruh bahasa tubuh yang bisa kulakukan agar dia mau mengerti. Dan syukurlah, itu berhasil. Aku dan Irene pun berlari keluar dari ruangan itu. Namun langkah kami seketika terhenti. Karena dua teman si botak sudah menunggu kami dengan pistol teracung.

“Nah, apa yang kita punya di sini? Seorang pantomime?”

Si ceking menodongkan pistol dengan ekspresi galak. Aku spontan mengangkat kedua tanganku. Reaksi yang wajar jika sedang ditodong penjahat bukan? Hanya saja aku tak bisa membuka jemariku karena harus menggenggam sebuah magazen.

Eh? Magazen? Tunggu dulu! Sejak kapan aku memegang magazen?

“APA? Bagaimana caranya kau...?” Si ceking melotot. Dia melihat pistol yang digunakannya. Dan semakin terbelalak. Karena magazennya lenyap. Orang yang ada di hadapannya ini. Siapa dia sebenarnya?

Tanganku yang lain kini memegang... err, sebuah raket tenis. Kenapa bukan sebuah pentungan saja ya? Tapi sudahlah. Raket pun sudah cukup. Aku hantamkan pemukul itu sekuatnya. Sampai si ceking mengaduh sambil menutupi mulutnya yang berdarah.

“Aaaaaah!”

Tidak berhenti sampai di situ, aku pun menendangnya keras sampai dia jatuh tersungkur. Si brewok melongo melihat kejadian itu. Dia jadi berang. Sambil berteriak seperti banteng kelaparan, dia menyerudukku. Mendorongku sampai menabrak tembok.

Ugh!

Aku terjepit. Sama sekali tak sempat menghindari serangan itu. Nafasku sesak. Dan sebuah vas bunga di tanganku memberiku sebuah ide. Aku hantamkan vas bunga itu ke kepalanya. Si brewok menjerit keras. Jepitannya melonggar. Aku mendorong tubuhnya, dan melemparkan vas bunga lagi. Tepat mengenai kepalanya. Dia mulai berdarah. Aku lempar lagi sebuah vas bunga. Dia menahannya dengan tangan. Tapi aku tak mau menyerah. Aku lempar vas bunga, lagi dan lagi. Ngomong-ngomong, kenapa vas bunganya tidak habis-habis ya? Yang jelas, satu lemparan terakhir berhasil membuat si brewok hilang kesadaran. Dia jatuh terjerembab dan pingsan seketika.

Bagus! Aku berhasil.

Irene menatapku dengan kening berkerut. Aku melihat sorot matanya penuh dengan tanda tanya. Meski kini, tak ada lagi sinar ketakutan pada matanya.
***

Rumah yang menyekap Irene itu kini dipenuhi petugas kepolisian Perancis. Mereka melintangi rumah besar itu dengan garis kuning untuk keperluan penyelidikan. Adalah Ferdinand Straus otak dibalik penculikan ini. Seorang penjahat kambuhan yang merupakan spesialis penculik anak orang-orang kaya. Dia dan dua rekannya Alfonso dan Leroy, merupakan penjahat yang cukup lama menjadi incaran polisi.

Irene selamat. Dia dijemput oleh keluarganya. Tentu saja, setelah berpamitan denganku. Seorang pantomime yang telah menyelamatkan nyawanya. Pertanyaannya sebelum pergi adalah,
“Siapa kau sebenarnya?”

Dan aku, entah kenapa tak bisa mengucapkan namaku sendiri. Piere Serge. Kenapa susah sekali untuk menyebutkan namaku jika sudah berdandan putih pucat seperti ini. Sudahlah. Yang penting semua sudah berakhir. Gadis pujaanku selamat. Itu yang terpenting.
***

Hari ini terasa sangat melelahkan. Otot-ototku kerasa lemas. Yang kubutuhkan adalah sebuah ranjang dan selimut yang hangat. Tentu saja, aku tak bisa tidur sebelum menghapus make up-ku. Air saja sudah cukup. Ya, aku tak pernah menggunakan perlengkapan pembersih lain selain air.

Aku cuci mukaku berkali-kali. Terutama bagian mata dan bibir. Sambil mencuci muka, berbagai keanehan yang terjadi tadi siang mulai mengganggu pikiranku. Bagaimana aku bisa selamat setelah tertabrak truk itu? Kenapa ada pintu di tengah jalan? Dan benda-benda yang tiba-tiba saja muncul di tanganku? Ini aneh sekali. Dan yang lebih parah, adalah suara. Aku benar-benar tak bisa lagi berbicara. Apa sebenarnya telah terjadi padaku?

Aku pandangi pantulan wajahku di cermin. Dan aku terperanjat. Karena make up ku belum luntur. Wajahku masih seputih tadi. Masih sepucat tadi. Bukan. Ini bukannya belum luntur, melainkan tak bisa luntur. Karena setelah aku perhatikan dengan teliti, ini semua adalah wajah asliku.

Oh mon Dieu!

Apa yang telah terjadi padaku?





Related Post:

0 Comment:

Post a Comment

Search Site