Cerita ini pernah gue kirim ke Aksarayana edisi dark-fantasy. Karena menurut gue, cerita ini super seram dan sangat-sangat-sangat menakutkan. Bahkan gue sendiri sampe ketakutan 7 hari 7 malem sejak nulis cerita ini. Nggak percaya? Cekidot!


Sebagai salah satu tenaga penjual di Violet Light Corporation, prestasi kerja yang ditunjukkan oleh Johny Parkinson terbilang cukup baik. Selalu
berhasil mencapai target penjualan dan beberapa kali mendapat penghargaan
sebagai karyawan dengan omset penjualan tertinggi. Namun semua itu kini telah
berakhir. Hanya karena satu ‘kesalahan’ kecil yang dibuatnya, Johny harus
kehilangan pekerjaan dan kehilangan semua catatan karir yang telah dibangunnya
dengan susah payah.
Well, sebenarnya apa yang telah dia
lakukan sebenarnya bukanlah murni sebuah kesalahan. Jika dilihat dari sudut
pandangnya, tentu saja. Johny hanya mencoba untuk mendekati Angelia. Seorang sekretaris muda yang baru beberapa bulan bekerja
di kantornya. Semuanya berjalan dengan baik, bahkan sangat baik. Angelia
merespon positif semua sikap dan perhatian yang diberikan Johny padanya. Sebuah
respon yang justru berbanding terbalik dengan yang dtunjukan oleh Robert.
Manager, sekaligus atasan Johny.
Perampingan
manajemen. Itulah istilah super halus yang digunakan Robert untuk menyingkirkan
Johny dan memasukan namanya ke dalam daftar terminasi. Sebuah daftar yang
berisi nama-nama karyawan dengan kinerja buruk. Berlebihan? Memang. Tapi apa
mau dikata. Para anggota direksi yang menandatangani usulan pemecatan nama-nama
karyawan itu sama sekali tidak pernah membaca dengan teliti daftar yang
diberikan. Oh, come on, mereka itu
direktur. Waktu mereka jauh lebih berharga untuk dipakai bermain golf,
melakukan kunjungan bisnis ke luar negeri atau semacamnya. Jadi meneliti
nama-nama karyawan dalam daftar terminasi satu per satu, jelas tidak termasuk
dalam deskripsi pekerjaan mereka.
Akhirnya,
kini Johny pun resmi kembali menjadi pengangguran. Sakit hati? Sudah pasti.
Kesal? Jangan ditanya. Yang jelas rasanya sangat menyebalkan. Hanya karena
bersaing untuk mendapatkan hati seorang wanita, Robert sampai menggunakan
jabatannya sebagai senjata ampuh. Itu sih tidak jantan namanya. Dasar pengecut!
Jika dia memang seorang lelaki sejati seharusnya dia mengerti untuk tidak mencampur
adukkan masalah cinta dan kantor. Urusan jabatan mesti dikesampingkan.
Berkompetisilah untuk mendapatkan cinta sebagai lelaki dan lelaki. Ah,
sudahlah. Percuma juga untuk dibahas. Semua itu sudah tidak ada artinya lagi.
Mobil
sedan putih yang dikemudikan Johny pun meluncur pelan menyusuri jalanan utama yang
sepi. Lampu-lampu tinggi di kiri kanan berderet rapi dan memancarkan cahaya
termaram. Tidak banyak mobil yang berlalu lalang. Hanya satu dua saja. Suasana
khas Bristol di malam hari. Minus kabut, tentunya. Berbeda dengan London yang seolah
tak pernah absen dari kabut. Di Bristol tidak pernah ada kabut, terutama pada
bulan agustus.
BRUGH!
“What the f~!!” Johny kaget bukan main.
Kakinya spontan menginjak rem. Mobilnya berhenti disertai suara mendecit panjang yang menggema sepanjang jalan. Sesosok manusia terlempar jauh sampai berguling beberapa meter ke depan. Pemandangan yang membuat Johny shock. Jantungnya berdebar kencang. Bukan salahnya jika dia menabrak orang itu. Sungguh. Orang itulah yang tiba-tiba saja menyebrang jalan seenaknya.
Johny buru-buru keluar mobilnya sambil berlari panik. Menghampiri sosok yang tergeletak di hadapannya.
“Are you, okay? Kau tidak apa-apa, sir?” tanyanya sambil membalikkan tubuh orang yang ditabraknya.
Eh? Ternyata perempuan.
Yang baru saja dia tabrak adalah seorang wanita. Cantik. Setidaknya itulah yang tersirat dalam pikiran Johny saat memandangnya. Kulitnya putih pucat dengan rambut panjang berwarna hitam. Hidungnya yang mancung serta bentuk pipinya yang tirus membuat Johny menduga jika perempuan ini berasal dari Irlandia. Bibirnya yang merah basah membuat Johny meneguk ludah. Jarang-jarang dia bisa mendapatkan kesempatan untuk berada sedekat ini dengan seorang wanita cantik. Ralat, wanita cantik yang sedang pingsan. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan tuh.
Tunggu dulu! Dia ini sedang berpikir apa sih? Kau baru saja menabraknya bodoh! Jangan berpikir yang macam-macam! Singkirkan pikiran kotormu itu!
“Miss? Miss? Kau baik-baik saja?” Johny mengguncang badan perempuan itu pelan. Tak bergeming. Dia semakin panik. Mencoba memeriksa tubuhnya. Barangkali ada bagian yang patah atau semacamnya. Tidak juga. Johny lalu memeriksa lehernya. Dingin. Tidak ada denyut nadi. Eh? Tidak ada... denyut nadi?
APAAA?!
Gawat! Gawat! Gawat! Gawat!
Wanita itu pasti tadi terbentur terlalu keras. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia lakukan? Aha! Ciuman buatan... bukan! Maksudnya, pernapasan buatan! Hanya itulah satu-satunya yang ada di dalam benaknya. Dengan mengesampingkan segala pikiran mesum dan kotor, Johny melakukan tahap-tahap pelaksanaan pernapasan buatan yang pernah dia pelajari waktu masih kuliah dulu. Melonggarkan baju korban, membuka ikatan tali bra (jika dia perempuan – dan syukurlah dia memang perempuan), meluruskan bagian punggung, leher dan kepala, menekan bagian ulu hati beberapa kali diselingi meniupkan udara melalui mulut sambil menutup hidungnya.
“Ayolah, miss! Bangunlah! Jangan membuat hariku semakin buruk!” Johny memohon.
“Uhuk!” Wanita itu bangun dan terbatuk-batuk.
“Syukurlah.” Johny lega.
Wanita itu sesaat seperti kebingungan. Matanya yang tajam menatap Johny. Memandangi kancing bajunya sendiri yang sedikit terbuka kemudian menjerit. Tiba-tiba saja wajahnya dipenuhi kerut yang mengerikan. Giginya yang putih pun seketika bertaring tajam.
BRUGH!
“What the f~!!” Johny kaget bukan main.
Kakinya spontan menginjak rem. Mobilnya berhenti disertai suara mendecit panjang yang menggema sepanjang jalan. Sesosok manusia terlempar jauh sampai berguling beberapa meter ke depan. Pemandangan yang membuat Johny shock. Jantungnya berdebar kencang. Bukan salahnya jika dia menabrak orang itu. Sungguh. Orang itulah yang tiba-tiba saja menyebrang jalan seenaknya.
Johny buru-buru keluar mobilnya sambil berlari panik. Menghampiri sosok yang tergeletak di hadapannya.
“Are you, okay? Kau tidak apa-apa, sir?” tanyanya sambil membalikkan tubuh orang yang ditabraknya.
Eh? Ternyata perempuan.
Yang baru saja dia tabrak adalah seorang wanita. Cantik. Setidaknya itulah yang tersirat dalam pikiran Johny saat memandangnya. Kulitnya putih pucat dengan rambut panjang berwarna hitam. Hidungnya yang mancung serta bentuk pipinya yang tirus membuat Johny menduga jika perempuan ini berasal dari Irlandia. Bibirnya yang merah basah membuat Johny meneguk ludah. Jarang-jarang dia bisa mendapatkan kesempatan untuk berada sedekat ini dengan seorang wanita cantik. Ralat, wanita cantik yang sedang pingsan. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan tuh.
Tunggu dulu! Dia ini sedang berpikir apa sih? Kau baru saja menabraknya bodoh! Jangan berpikir yang macam-macam! Singkirkan pikiran kotormu itu!
“Miss? Miss? Kau baik-baik saja?” Johny mengguncang badan perempuan itu pelan. Tak bergeming. Dia semakin panik. Mencoba memeriksa tubuhnya. Barangkali ada bagian yang patah atau semacamnya. Tidak juga. Johny lalu memeriksa lehernya. Dingin. Tidak ada denyut nadi. Eh? Tidak ada... denyut nadi?
APAAA?!
Gawat! Gawat! Gawat! Gawat!
Wanita itu pasti tadi terbentur terlalu keras. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia lakukan? Aha! Ciuman buatan... bukan! Maksudnya, pernapasan buatan! Hanya itulah satu-satunya yang ada di dalam benaknya. Dengan mengesampingkan segala pikiran mesum dan kotor, Johny melakukan tahap-tahap pelaksanaan pernapasan buatan yang pernah dia pelajari waktu masih kuliah dulu. Melonggarkan baju korban, membuka ikatan tali bra (jika dia perempuan – dan syukurlah dia memang perempuan), meluruskan bagian punggung, leher dan kepala, menekan bagian ulu hati beberapa kali diselingi meniupkan udara melalui mulut sambil menutup hidungnya.
“Ayolah, miss! Bangunlah! Jangan membuat hariku semakin buruk!” Johny memohon.
“Uhuk!” Wanita itu bangun dan terbatuk-batuk.
“Syukurlah.” Johny lega.
Wanita itu sesaat seperti kebingungan. Matanya yang tajam menatap Johny. Memandangi kancing bajunya sendiri yang sedikit terbuka kemudian menjerit. Tiba-tiba saja wajahnya dipenuhi kerut yang mengerikan. Giginya yang putih pun seketika bertaring tajam.
Johny melotot.
“K-kau vamp...”
Belum sempat berteriak, tangan wanita itu..., bukan, tangan
vampire itu sudah bergerak cepat mencekik lehernya. Dengan kekuatan yang luar
biasa, vampire itu terbang dan mendorongnya sampai menghantam mobilnya sendiri.
“Ugh!”
“Apa yang sudah kau lakukan padaku, hah?”
“N-nff… Iff.. ckk…”
“JAWAB!”
“Ff… df…”
“Tidak mau bicara? Kalau begitu…” Vampire itu menunjukkan jari jemarinya
yang berkuku tajam.
Johny pucat dan buru-buru menunjuk ke arah lehernya.
“Kff… Ikk… nff…”
“Oh!” Vampire itu segera melepaskan tangannya.
“Hah-hah-hah.” Johny megap-megap mencari nafas. Udara rasanya sangat
nikmat. “Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu jika kau mencekikku seperti
itu!!”
“Sekarang katakan! Apa yang sudah kau lakukan tadi padaku?”
“Tadi? Hanya pernapasan buatan.”
“Kau menciumku!”
“Itu bukan ciuman! Itu namanya pernapasan buatan!”
“Sama saja!”
“Beda! Aku melakukannya karena terpaksa! Tadi aku panik. Aku pikir kau sudah mati. Jadi aku...”
Johny tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Wanita dihadapannya itu adalah
vampire. Tentu saja dia sudah mati.
Vampire itu mendadak diam
mematung. Kemudian bergerak cepat mendekati Johny dan mengendusnya. Mulai dari kening, hidung, mata dan
leher. Tingkahnya persis seperti seekor anak kucing yang penasaran.
“Hei-hei-hei, apa yang kau lakukan?” Johny mendorong perempuan itu
menjauh.
“Kau bukan bagian dari mereka, ya?”
“Mereka? Mereka siapa?”
***
Mobil yang dikemudikan Johny melaju sangat kencang. Kecepatannya
mencapai seratus dua puluh kilometer per jam. Dia sampai berkeringat dingin
mengemudikannya. Seumur hidup dia belum pernah memacu mobilnya sekencang ini. Bukannya
apa-apa. Terlalu berbahaya. Bagaimana jika nanti ada polisi yang mencegatnya
dan dia ditilang karena melanggar batas kecepatan? Urusannya bisa panjang bukan?
“Namaku Minerva. Aku adalah vampire dari klan Draconis. Saat ini aku
sedang mengemban tugas penting dari klanku untuk mengantarkan sebuah amulet
suci. Seharusnya ini menjadi sebuah tugas yang mudah jika saja aku tidak
dihadang oleh seorang vampire dari klan Necromansia. Dia menyerangku dan…”
Ah, memangnya aku peduli, gerutu Johny. Hari ini benar-benar hari yang buruk baginya. Sudah
dipecat dari pekerjaannya. Gagal mendapatkan hati seorang wanita. Dan kini dipaksa seorang
vampire wanita untuk mengantarkanya sampai ke Somerton. What
a perfect day! Apa vampire itu
tidak tahu berapa jarak dari Bristol ke Somerton? Lalu siapa yang harus
membayar bensinnya? Kalau dia memang seorang vampire lalu kenapa dia tidak terbang
saja? Atau setidaknya melakukan teleport seperti Harry Potter!
“Hei? Kau mendengarku?”
“Eh… apa? Ya, ya, aku dengar semuanya.”
“Bagus. Karena kita harus bergerak cepat. Dia itu sangat kejam dan tidak
pernah segan untuk membunuh manusia.”
Johny melotot.
“Err… siapa sebenarnya yang sedang kita bicarakan ini?”
“AWAAAS!!” Minerva menjerit.
“What the f~!”
Sesosok vampire tiba-tiba saja berdiri di tengah jalan. Kemudian mencoba
menabrakkan dirinya ke arah mobil yang sedang melaju. Johny refleks membelokkan
arah, mengakibatkan mobilnya oleng, menabrak pembatas jalan, terbalik, dan
berguling-guling beberapa meter ke depan. Keduanya menjerit kesakitan. Johny
jadi mengerti bagaimana perasaan buah apel yang sedang di jus.
“Hah-hah-hah, kita masih hidup? Kita masih hidup?” Johny memandangi
dirinya sendiri yang masih utuh. Untunglah dia selalu memakai sabuk pengaman.
Namun raut mukanya berubah saat melihat kondisi kap depan mobilnya yang penyok
luar biasa dan berasap tebal.
“Oh tidak… Jangan mobilku.” keluhnya sambil menangis. Dia menabung
hampir setahun lamanya hanya untuk bisa membayar uang muka. Dan sampai kini cicilan
mobilnya belum lunas.
“Halo, Minerva sayang?”
“Victor!”
“No-no-no! Jangan pintunyaaa!”
BRAK!
Victor menarik pintu mobil bagai terbuat dari gabus lalu melemparkannya
begitu saja. Kemudian dengan satu tangan menarik tubuh Minerva dan
mengangkatnya tinggi-tinggi. Matanya melotot tajam sembari menyeringai.
“Di mana amuletnya sayang?”
“Aku takkan bilang!”
“Cepat katakan!”
“TIDAK!”
“Kau memang keras kepala. Tetapi tidak apa-apa, aku suka dengan vampire
yang keras kepala, hahaha.” Victor mengangkat Minerva dan membantingnya di kap
depan mobil. Kini Johny bisa melihat dengan jelas, bagaimana Victor mencekik
Minerva sementara vampire wanita itu meronta-ronta lemah tak berdaya.
“Lepaskan aku! Victor!”
“Hehehe, kita bisa melakukannya dengan cara yang kasar atau cara yang
halus sayang. Kau yang tentukan sendiri.”
“CUKUP!” bentak Johny keras. Dia keluar dari mobil sambil memegang kunci
inggris sementara tangannya yang lain memegang senter.
“Jangan ikut campur, manusia.” desis Victor galak, “Ini bukan urusanmu.”
“Bukan urusanku? BUKAN URUSANKU KATAMU??” Johny semakin murka,
“Dengarkan aku vampire, bodoh! Aku tidak perduli jika kau datang dari klan
Nicus-Nicus atau Koperkonis terserah! Dan aku tidak mau tahu dengan amulet atau
apa pun yang sedang kalian perebutkan. Yang jelas, KAU TELAH MENGHANCURKAN
MOBILKU!”
“Hah?”
“Dan hari ini suasana hatiku sedang sangat buruk. Kau bermain-main
dengan orang yang salah, bodoh!” tukas Johny sambil mengayunkan kunci
inggrisnya.
Bletak!
Victor melenguh seperti sapi saat kepalanya dihantam keras. Dia
benar-benar tak menyangka akan diserang seperti itu. Matanya melotot tajam.
Bletak!
Dua kali Victor dihantam. Dan setiap hantaman rasanya semakin keras.
Dahinya sampai berdarah. Gila! Manusia dihadapannya ini… kenapa bisa kuat
sekali? Hasrat apa gerangan yang menyangga kekuatannya?
“Kurang ajar! Apa kau tahu siapa ak …!”
Bletak!
Hantaman ketiga membuat Victor berkunang-kunang. Kepalanya pusing. Yang
benar saja. Dia itu vampire! Vampire ganas dari klan Necromansia. Masa bisa
kalah oleh seorang manusia yang hanya bersenjatakan kunci inggris?
Bletak!
Empat kali sudah kepalanya jadi bulan-bulanan. Victor berang. Pandangannya
sudah mulai kabur. Tapi bukan Victor namanya kalau bisa kalah begitu saja.
“Aaaaakh!!”
Victor bergerak cepat kemudian menyeruduk Johny. Membawanya terbang
rendah. Bergerak begitu cepat sampai menabrak sebuah pohon. Johny mengerang.
Punggungnya terasa remuk. Rasanya seperti ditabrak seekor badak stres yang
depresi karena ditolak cinta.
“Kurang ajar!” Dia mengamuk dan menyorotkan senter ke punggung Victor.
“Aaaakh!” Victor menjerit. Sinar itu seketika melelehkan punggungnya.
Tubuhnya berasap dan pegangannya terlepas. Sambil terus menjerit kesakitan dia
berguling-guling di aspal. Aliran darah di seluruh tubuhnya seolah berbalik.
“Rasakan ini!” Johny menendangnya keras berkali-kali.
Victor melenguh pendek. Rasa sakit pada punggungnya itu seolah telah melenyapkan
seluruh kekuatannya. Demi taring drakula! Cahaya apa tadi yang disorotkan
kepadanya? Kenapa rasanya sakit sekali? Victor melotot. Untuk pertama kali
dalam hidupnya, dia merasa ketakutan. Sangat ketakutan.
Siapakah lelaki yang kini ada dihadapannya? Kenapa dia bisa mengeluarkan
cahaya mematikan seperti itu? Apakah dia seorang Paladin? Crusader? Ataukah
kaum pemburu vampire?
“Si-siapa kau sebenarnya…. manusia?” tanya Victor penasaran.
Johny berdiri tegap begitu perkasa. Sambil menunjukkan lampu ultraviolet
yang menjadi salah satu produk unggulan perusahaannya, dia berkata penuh
percaya diri.
“Aku seorang salesman.”
“L-lampu ultraviolet?” Victor pucat.
“Dan kau baru saja berhutang satu mobil padaku, bodoh!”
BLASH!
***
Johny duduk termenung di dalam
apartemennya yang kecil. Matanya terus tertuju pada angka-angka yang tertulis jelas
di laptopnya. Seratus juta poundsterling. Coba kau bayangkan
itu! Rasanya masih tak percaya jika saldonya di bank telah mencapai angka se-fantastis
itu. Jumlah yang mungkin takkan pernah bisa di
dapatkannya
bahkan jika dia bekerja selama ribuan tahun.
“Seratus juta... ya ampun. Seratus juta.”
“Kau sudah membaca semua tentang
kekuatan pedang Ignios, bukan?”
“Ya, sudah.” kata Johny
tersenyum simpul. Tapi kemudian keningnya berkerut. Pedang Ignios? Binatang
apalagi itu. Ah, sudahlah. Bukan urusannya. Yang penting sekarang adalah apa
yang harus dia lakukan dengan uang sebanyak ini? Beli rumah? Beli mobil? Atau
berlibur ke Paris? Sudah lama sekali dia ingin berlibur ke sana.
“Lalu kenapa kau belum berkemas.”
“Eh? Berkemas?” Johny memutar kursinya dan
terheran-heran melihat Minerva sudah
berdandan rapi. Lengkap dengan kopornya. “Memangnya mau ke mana?”
“Tentu saja ke Itali.” kata Minerva.
Nadanya sedikit bingung.
“Err… memangnya mau apa kita ke Itali?”
Minerva melotot.
“Jangan pura-pura lupa! Kau sudah membaca kontraknya bukan?”
“Kontak? Kontrak apa?”
“Kontrak untuk menghancurkan pedang Ignios milik klan Vandarius di itali.”
“Vanaf… vanacius?”
Minerva menghela nafas panjang dan melempar sehelai perkamen ke arahnya.
Johny membacanya lambat-lambat. Perkamen itu berisi perjanjian antara dirinya
dengan klan vampire Draconis. Perjanjian itu menyebutkan jika dia akan bekerja
sebagai asisten mereka dan bersedia melakukan semua tugas-tugas penting yang
dibebankan kepadanya. Johny melotot saat melihat tanda tangannya telah tercantum
dalam kontrak itu.
Kenapa ada tanda tangannya di sini? Tunggu. Kalau tidak salah…, ya, dia ingat
sekarang. Beberapa bulan yang lalu dia memang pernah menandatangani kontrak ini
setelah mengantar Minerva ke Somerton menggunakan mobil sewaan. Dia di sambut
meriah oleh para vampire di sana. Di anggap sebagai pahlawan atau semacamnya.
Yang jelas, kontrak inilah yang menyebabkan kenapa saldo di rekening banknya bisa
melonjak tajam. Tapi waktu itu, dia pikir kontrak ini adalah surat pernyataan
untuk ganti rugi mobilnya yang rusak.
“Johny? Kau mendengarku?”
“Ah.. ya, ya. Aku dengar.”
“Bagus. Cepatlah berkemas. Kita akan berangkat satu jam lagi. Dan menurut
berita yang kudapat, besar kemungkinan kita akan dihadang oleh sekawanan monster
Ghoulizan. Bawalah senter ultraviolet-mu
itu sebanyak-banyaknya. Kita akan memerlukannya.” Kata Minerva datar
Johny bengong.
“Monster Ghou…? Maaf, tapi apa sih sebenarnya yang
sedang kita bicarakan?”
Dibalik wajahnya yang serius dan dingin,
lelaki kelahiran 19 Juni 1982 ini
ternyata merupakan seorang yang humoris.
Kegemarannya pada dunia fantasi dan
komedi membuatnya terobsesi untuk menulis
berbagai cerita yang ringan, lucu sekaligus
menegangkan. Ayah dari satu anak ini
bekerja sebagai engineer di salah satu
perusahaan industri pesawat terbang.
Dia juga aktif mengajar dan sedang
menyelesaikan proyek novel perdananya.






0 Comment:
Post a Comment