Mongku & Barnabas: Gerbang Cacing (Chapter 0)

Posted by Rickman Roedavan on 7:16 PM

Barnabas terjun dari puncak pinus yang tingginya bisa membuat seekor kucing dewasa pingsan tak sadarkan diri. Ketika mendekati ketinggian setengah pohon, dia membuka kedua tangan dan kakinya lebar-lebar. Membentangkan selaput tipis yang tersembunyi dibalik tubuhnya. Seketika saja jatuhnya melamban. Dengan sedikit menggerakkan ekor, dia pun melaju menantang angin. Bergerak lincah menghindari batang pepohonan. Sebelum akhirnya mendarat dengan sempurna di atas tanah berkerikil. Melihat caranya melayang dan melakukan gerakan lincah di udara, terlihat jelas kalau dia adalah seekor bajing terbang yang sangat berpengalaman.

“Bagaimana? Kelihatan tidak?”

“Kelihatan. Persis seperti yang dikatakan musang-musang tadi. Rumahnya memang berada di dekat sungai.”

“Bagus. Berarti arah kita sudah tepat. Ayo!”

"Tunggu dulu.”

"Kenapa lagi?"

Barnabas mengacak pinggang.

“Kau sudah mengerti rencananya kan?”

Mongku mengangguk dengan wajah serius.

“Masa?” Barnabas malah tidak percaya kalau sahabatnya sudah pasang tampang yakin seperti itu.

“Coba katakan sekali lagi.”

“Apanya?”

“Rencananya.”

“Mudah saja. Aku akan masuk dengan mendobrak pintu, menghajar Sindel dengan tongkatku, dan membebaskan teman-teman kita.”

“Hah?”

“Ayo kita berangkaaat!” ajak Mongku bersemangat

“AYO APANYA!” bentak Barnabas keras. Matanya melotot. “Rencananya bukan begitu, Mongku!”

“Tapi itu kan rencana yang bagus.”

“Bagus darimana? Memangnya kau pikir bisa semudah itu? Masuk dengan mendobrak pintu? Menghajar Sindel dengan tongkat? Tongkat gundulmu!”

“Aku tidak bilang disundul. Tapi menghajarnya dengan tongkat. Sama seperti yang pernah kulakukan ketika aku menghajar kepala Sameer. Si harimau loreng berbadan besar itu. Kau masih ingat kan? Waktu itu...”

“Ya, ya, ya, cukup! Cukup! Kau sudah menceritakannya puluhan kali sampai-sampai aku bosan mendengarnya.” potong Barnabas sambil mengibaskan tangan, “Yang akan kita hadapi kali ini bukan harimau, Mongku. TAPI PENYIHIR!”

“Aku tahu kalau dia penyihir. Lalu kenapa?” balasnya heran. “Memangnya penyihir tidak punya kepala?”

“Bukan begitu maksudku.”

“Atau kau pikir karena mentang-mentang dia seorang penyihir kepalanya tidak bisa kuhajar?”

“BUKAN BEGITU MAKSUDKU!”

“Lalu apa?”

“Cara menghadapi seorang penyihir berbeda dengan cara menghadapi seekor harimau. Penyihir itu bisa mengeluarkan mantera, kutukan atau jampi-jampi yang mengerikan. Terlebih penyihir kawakan seperti Sindel. Aku yakin sihir-sihirnya amatlah berbahaya. Sekali saja kau salah menghindar, kau bisa mati!”

“Aku tidak takut mati.” kata Mongku pelan. Ada ketegasan dalam suaranya. “Sindel sudah menculik teman-temanku. Dan aku akan menyelamatkan mereka. Tak perduli jika seluruh tubuhku hancur dan bulu-buluku musnah. Aku akan terus bertarung melawannya. Berjuang sampai titik darah penghabisan!”

Barnabas menepuk jidatnya. Berulang kali menghembuskan nafas panjang. Sabar. Sabar. Sahabatnya itu memang bodoh. Jauh lebih bodoh dari seekor keledai. Jika seekor keledai akan berpikir seribu kali untuk meloncati parit, maka sahabatnya itu tidak akan banyak berpikir untuk meloncati jurang.

“Dengarkan aku baik-baik, Mongku. Aku juga sama sepertimu. Aku juga ingin menyelamatkan mereka. Tetapi bertindak sembrono tanpa rencana yang matang adalah satu kesalahan besar. Ingatlah kata sesepuh Bonbalu. Satu langkah dengan rencana jauh lebih baik daripada seribu langkah tanpa rencana.” kata Barnabas, “Lagipula jika kita berdua mati, lalu apa artinya pelacakan kita selama ini? Yang terpenting sekarang bukanlah bagaimana caranya menghajar kepala Sindel, tapi bagaimana caranya menyelamatkan teman-teman kita.”

Mongku ingin membantah. Mulutnya sempat membuka namun mengatup lagi. Kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan Barnabas ada benarnya juga.

“Pokoknya aku tidak takut dengan Sindel.” gumamnya serius

“Yang penting ikuti saja semua rencanaku, bisa kan?”

“Iya deh, bisa!” jawabnya pendek. “Ayo! Kita hajar kepala si Sindel itu!”

“Mongku?”

“Apalagi sih?”

“Kau benar-benar mengerti rencananya kan?”

“Iya aku mengerti! Dasar cerewet!”

Barnabas memandangnya tajam. Perasaannya tidak enak.

“Bagaimana coba?”

“Apanya?”

“Rencananya?”

Mongku mengerang. Kelihatannya dia mulai kesal ditanya hal yang sama berulang-ulang.

“Kan sudah kubilang tadi. Aku akan masuk dengan mendobrak pintu, menghajar Sindel dengan tongkat dan membebaskan teman-teman kita.”

“RENCANANYA BUKAN BEGITU MONGKU!”

***

Kuali hitam yang sedang diaduk Sindel terlihat panas. Cairan kental yang direbusnya sampai mendidih. Meletup-letup bagai lahar. Nenek tua itu terkekeh ketika reaksi seperti ledakan, disusul bunyi ‘boff’ muncul ketika tangannya memasukan kaki ayam, lidah kadal, atau beberapa helai bulu gagak. Sambil mengaduk ramuan dengan sendok kayu, mulut keriputnya komat-kamit mengucapkan mantera. Sebuah ledakan terjadi lagi. Sindel pun menyeringai.

“Aaah, aromanya sudah sempurna. Bagus! Itu berarti ramuan Paras Bidadari-ku sudah selesai.” katanya dengan suara parau, “Dengan ramuan ini wajahku akan menjadi cantik. Persis seperti gadis berusia tujuh belas tahun, hihihi.”

Sindel membuka sebuah lemari kecil di sudut ruangan. Mengambil sebuah cangkir kecil dan menuangkan sedikit ramuan tadi ke dalamnya. Menghirup aromanya dalam-dalam, kemudian menyeruputnya perlahan. Rasanya aneh. Seperti meminum segelas kopi pahit yang dicampur lumpur dan kotoran burung. Namun Sindel tidak perduli dengan rasanya. Yang paling dia perdulikan adalah khasiatnya.

“Akh!”

Tak lama setelah ramuan itu ditenggak dia mulai merasakan sesuatu. Perutnya melilit, jari jemarinya kaku, dan kepalanya seperti ditusuk ratusan jarum pentul.

“Demi jenggot kambing! Kenapa rasanya jadi seperti ini...?” Sindel limbung dan terjatuh di lantai. Dia menjerit keras. Wajahnya terasa seperti dibakar. Dia sampai berguling-guling karena kesakitan. Dunia rasanya berputar hebat.

“Aaakh!” Sindel terus menjerit kesakitan selama beberapa saat. Tak lama rasa sakit itu berangsur-angsur hilang meski kedua kakinya masih terasa kaku.

“Sudah selesai? Su-sudah selesai kah?” Sindel terengah-engah kelelahan. Senyum sumringah tersungging di bibirnya. Ramuan itu berhasil. Wajahnya sudah menjadi cantik. Dengan susah payah, dia berdiri tegak dan berjalan tergopoh ke sebuah cermin besar. Cermin itu memantulkan sesosok perempuan tua berjubah hitam. Seluruh rambutnya putih. Wajahnya dipenuhi keriput. Hidungnya bengkok berkutil. Matanya lebam seperti habis dihajar beruang stres. Dan gigi-giginya hitam tak terurus. Eh? Tunggu dulu... kenapa wajahnya sama sekali tidak berubah?

“Loh? Loh? Loh? Kenapa? Kenapa ini?” Sindel panik, “Kenapa wajahku tidak menjadi cantik? Atau jangan-jangan... aku salah membuat ramuan?” Dia kembali membuka-buka buku ramuan kecantikan yang dibelinya di sebuah toko tua di desa Shirikit. Membaca semua bahan-bahan serta cara memasaknya dengan teliti.

“Aneh. Aku sudah melakukannya persis seperti yang tertuang di dalam buku. Kenapa tidak berhasil? Apanya yang salah? Eh? Tunggu dulu... apa ini?”
Matanya tertuju pada sederet kalimat yang ditulis kecil-kecil sekali di bagian bawah buku. Tulisan itu berbunyi:

Tidak ada jaminan 100% bahwa anda akan menjadi cantik setelah meminum ramuan ini. Jika setelah meminumnya anda masih tetap terlihat seperti nenek-nenek tua yang jelek dan keriput, saran kami: terima saja kenyataannya dengan lapang dada. Mungkin wajah jelak anda memang sudah bawaan lahir. Dan satu hal lagi, semua buku yang sudah dibeli dari toko kami tidak bisa ditukar atau dikembalikan. Kami juga tidak menerima saran, dan kritik dalam bentuk apa pun.
“APAA??” Sindel berang. Dia merasa ditipu. “Dasar sapi botak! Bebek ceking! Kadal ingusaaan!! Beraninya.... beraninya toko itu menipuku! Awas saja... kalau aku kembali lagi akan kuhancurkan tokonya sampai menjadi abu!”

Praaang!!

“Demi jenggot kambing! Apa itu?”

Sindel terlonjak kaget. Dia berjalan pelan mendekati sumber suara yang berasal dari ruang depan. Matanya melotot saat melihat salah satu kaca jendelanya pecah. Sebuah batu kecil yang tergeletak di antara pecahan kaca dipastikan menjadi penyebabnya.

“Batu? Siapa yang...”

Praaang!!

Lemparan kedua memecahkan kacanya yang lain.

“Siapa yang berani melempari kaca rumahku!” Sindel benar-benar kesal. Dia berlari keluar dan tertegun. Dihadapannya kini telah berdiri seekor monyet kecil berbulu keemasan. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat bambu sementara tangannya yang lain memenggang sebongkah batu.

“Eh? Monyet? Jadi kau yang melempari rumahku?”

“Lepaskan teman-temanku, nenek tua!”

“Hah?”

Sindel bengong.

“Bukan hah? Di mana kau sekap mereka? Cepat lepaskan! Atau kuhajar kepala jelekmu itu!” kata Mongku sambil mengayunkan tongkat bambunya.

Sindel benar-benar kaget. Baru kali ini dia diancam oleh seekor monyet.

“Kau ini siapa, hah? Berani sekali kau mengancamku.”

“Namaku Mongku. Dan aku akan menghajar kepalamu jika kau tidak segera membebaskan
teman-temanku.”

“Seenaknya saja kau bicara. Kau ini cari mati ya?”

“Bukan! Aku mencari teman-temanku!” balasnya, “Bebaskan mereka cepat! Sebelum kau babak belur ditanganku!”

“MONYET SINTING!!”

Sindel benar-benar naik darah. Diancam oleh manusia saja dia tidak suka. Apalagi diancam oleh seekor monyet. Dia mengucapkan mantera sambil mengayunkan tongkat sihirnya.

“Kutukan Ular Api!!"

Seberkas cahaya kuning berpijar di ujung tongkat. Cahaya itu membentuk bola kemudian melesat bagai peluru. Meninggalkan jejak aneh laksana liukan ular di udara. Secepat bola itu berkelebat, secepat itu pula bentuknya berubah menjadi seekor ular bercahaya yang menyeramkan.

Mongku melotot.

Dia tak menduga serangan cepat itu. Beruntung gerak refleksnya sangat baik. Ketika sang ular cahaya akan menerkamnya, dia melompat untuk menghindar.

Blaar!

Ular sihir pun meledak menghantam tanah. Meninggalkan jejak hangus yang dahsyat. Seperti baru saja diterjang lahar panas.

"Waaah!" Mongku terbelalak. Dia melirik bekas tanah yang hancur tadi. Terlambat sedikit dia akan bernasib sama.

"Rasakan ini!"

Sindel kembali menembaki Mongku dengan mantera-mantera sihirnya. Beberapa bola kuning yang kemudian berubah menjadi ular-ular api melesat sekaligus. Mereka bergerak lincah di udara. Berkelok cepat dan menukik tajam. Menyerangnya dari segala arah.

"Aaaaaakh!!"

Mongku mundur beberapa langkah. Meloncat, berguling, bersalto dan melakukan gerakan apa pun yang dianggap perlu untuk menghindari semua serangan sihir itu.

Blaar! Blaar!

Ledakan demi ledakan terjadi silih berganti. Ular-ular sihir yang gagal menerkamnya menghantam tanah, rumput, dan bebatuan. Masing-masing meledak keras. Menghancurkan semua yang menghalangi.

Mongku terbilang cukup lincah dalam menghindari semua serangan itu. Namun sayang, dia gagal menghindari serangan ular sihir yang terakhir. Bahu kirinya terserempet serangan Sindel.

“Akh!”

Dia terpelanting sampai terguling-guling. Bahunya sakit sekali. Rasanya seperti disayat sepotong besi panas.

“Kena kau,” Sindel senang saat melihat bahu Mongku perlahan mengepulkan asap, “Matilah kau sekarang.”

“Enak saja!”

Sesaat sebelum Sindel membidik, Mongku terlebih dulu melempar tongkatnya. Gerakan itu membuat Sindel refleks mengubah arah serangan.

Blaar!

Tongkat yang dilemparnya hancur berantakan.

“Kalau kau pikir tongkat begitu bisa membunuhku kau salah besar. Eh?” Sindel kaget begitu melihat Mongku tak memperdulikannya dan malah berlari kencang.

Kabuuur!

"Hei! Jangan lari kau monyet sinting! Sini! Hadapi aku!!" teriaknya.
Dengan tergesa dan sedikit terseok karena tersangkut jubah panjang, Sindel mengejarnya sampai ke pedalaman hutan. Beberapa kali dia sempat berhenti berlari karena mendadak saja perutnya melilit. Sakiiit. Pasti gara-gara ramuan palsu tadi. Sial! Awas saja! Dia sudah bertekad untuk meminta ganti rugi kepada toko itu.

“Kau kenapa nenek tua? Kecapekan? Tak bisa lagi berlari? Payah!!” teriak Mongku memanas-manasi.

“Kurang ajar! Monyet itu....” Sindel benar-benar kesal. Dia kembali merapal mantera. Ular-ular api yang ganas melesat dari ujung tongkatnya. Meliuk-liuk di udara. Bergerak cepat mencari sasaran.

“Aaaaaakh!”

Blaar!

Mongku harus berjuang keras untuk menghindari serangan ular-ular itu. Beruntung kondisi hutan berpihak padanya. Ular-ular sihir itu kebanyakan hanya menghantam batang pepohonan dan perdu. Semuanya meleset dari sasaran.

"Sial! Jangan bersembunyi kau, monyet jelek. Tunjukkan batang ekormu!" teriaknya keras. Pandangannya memicing. Berusaha mencari monyet yang sudah lenyap dari pandangannya.

“Aku di sini nenek tua.”

Sindel menyerangkan ular sihirnya ke sumber suara.

Blaar!

Satu ledakan keras terjadi. Namun kosong. Monyet itu tidak ada di sana.

“Kau ada di mana? "

“Di sini.”

Sindel menembakkan lagi ular-ular sihirnya. Lebih beringas. Batang pohon dan semak-semak hancur berhamburan. Namun usahanya belum membuahkan hasil.

“Kau mungkin bisa bersembunyi. Tapi kau takkan bisa lari!” teriak Sindel.

“Aku di sini!”

“Kutukan Ular Api!”

Blaar!

“Tidak kenaaa!”

“Sial!” Sindel berlari sekuat tenaga. Berusaha mengejar Mongku yang sepintas tadi terlihat berkelebat di antara semak-semak rimbun. Namun kakinya tersangkut sebuah sulur pohon yang melintang lurus.

“Akh!!”

Gedebruk!

Sindel terjatuh keras. Tongkat sihirnya terlepas dari genggaman.

“Berhasil!” pekik Barnabas dari atas pohon, “Sekarang Mongku!”

“Ya ampun, kenapa sulurnya bisa melintang begini?” keluh Sindel. Dia mencoba bangkit dan terkejut saat melihat Mongku sudah berdiri tak jauh di depannya. Mereka saling berpandangan sambil sesekali melirik tongkat sihirnya yang tergeletak.

“Apa yang kau tunggu, Mongku? Cepat ambil tongkatnya!!”

Sindel melotot. Kehilangan tongkat adalah kerugian besar bagi seorang penyihir. Dan dia tidak mau hal itu itu terjadi.

“Enak saja!!”

Mereka berdua bergerak bersamaan. Sindel melompat. Memaksa tubuh tuanya meraih tongkat kesayangannya.

“Kena!” Sindel senang karena dia berhasil memegang pangkal tongkat. Namun wajahnya berubah karena ternyata Mongku juga berhasil memegang ujungnya. “Lepaskan tongkatku, monyet jelek! Lepaskan!”

“Tidak!!”

“Lepaskaaan!!”

“Tarik Mongku!”

Mereka berdua saling berebut tongkat sihir. Sama-sama tidak mau menyerah.

“Monyet sial!” umpat Sindel, “Kutukan Ular Api!”

Bersamaan dengan mantera yang terucap ujung tongkat jadi terasa panas. Mongku melotot. Telapak tangannya berasap. Buru-buru melepaskan tongkat dan melompat mundur. Seekor ular api melesat secepat kilat. Bersiap untuk menerkamnya. Namun dasar monyet yang satu itu lincahnya bukan main. Mongku masih sempat memutarkan badannya seperti gasing. Sehingga alih-alih dihantam telak, ular itu ‘hanya’ menyerempet punggungnya. Meski tentu saja diserempet ular api rasanya jauh lebih sakit daripada digigit harimau.

“Aaaakh!!”

Mongku menjerit kesakitan. Dia jatuh terjerembab keras sekali. Punggungnya mengepulkan asap hebat.

“MONGKUUU!!” Barnabas menjerit histeris.

Sindel berdiri tertatih dengan susah payah. Dia terkekeh senang saat melihat Mongku berguling kesakitan dihadapannya.

“Itulah akibatnya jika kau berani melawanku!” katanya sambil menodongkan tongkat sihirnya lagi, “Sekarang matilah kau!”

“Hei, nenek tua!”

“Hah?”

“Di atas ini!!”

Sindel mendongak. Matanya tertuju pada seekor bajing terbang di atas pohon yang sedang membidiknya dengan ketapel.

Pletak!

“Aaaakh!!” Sindel menjerit saat bidikan Barnabas tepat menyerang sebelah matanya. Peluru cabai yang digunakannya bekerja dengan baik. Mata Sindel perih bukan kepalang. Barnabas pun meloncat. Hinggap di tangan Sindel dan menggigit jemari tangannya keras-keras.

“Wadaaaaw!!” Sindel benar-benar kesakitan. Dia mengibaskan tangannya kuat-kuat. Barnabas bertahan sekuat tenaga. Mencakar tangan Sindel dengan seluruh kukunya. Namun perbedaan tenaganya terlalu jauh. Cengkeramannya terlepas dan dia sendiri terlempar sampai menghantam pohon.

“Ugh!” Barnabas menjerit. Punggungnya terasa remuk.

“Bajing jelek! Beraninya kau...” Sindel murka. Tangan kurusnya bergerak menodongkan tongkat. Namun belum sempat mulutnya mengucap mantera, Mongku sudah terlebih dahulu menubruknya sampai tersungkur.

“Argh!”

Gedebruk!

Dan untuk kedua kalinya, tongkat Sindel terlepas dari genggaman. Meski punggungnya sudah terluka parah, namun ternyata Mongku masih bisa bergerak selincah dan sekuat itu.

“Bagus, Mongku! Sekarang!”

“Baik!” jawabnya mantap.

“Dasar binatang-binatang kudisan! Awas saja. Tidak akan kubiarkan kalian....” Sindel yang sedang mencoba berdiri, terperangah saat melihat Mongku sudah dalam posisi untuk mematahkan tongkatnya.

“A-apa yang kau... jangaaaaaaaa....”

Pletrak!

Terlambat. Mongku sudah terlanjur mematahkan tongkat kesayangan Sindel dengan lututnya. Dia sempat meringis karena ternyata tongkat itu lebih keras dari dugaannya semula. Tapi usahanya tidak sia-sia. Meski tidak terbagi menjadi dua, tongkat sihir Sindel berhasil dipatahkannya.

“Tidaaaaaaaak!!”

“Rasakan itu!” kata Mongku senang.

Asap kehitaman disertai percikan api kecil keluar dari dalam patahan tongkat. Sindel melotot. Inti api yang terkurung di dalam tongkatnya perlahan menguap. Jika patahan pada tongkatnya tidak segera ditutup, tongkatnya itu akan berubah menjadi sebatang tongkat biasa. Dan dia tak mau hal itu terjadi.

“Kembalikan tongkatku, monyet jelek!” Sindel berlari frutasi. Dia harus segera menutup patahan pada tongkatnya sebelum terlambat.

“Lempar padaku!”

“Tangkap, Barnabas!”

“Jangaaaaan!!” Sindel panik saat melihat tongkatnya dilempar bagaikan sebatang kayu tak berguna. Dia sangat cemas. Semakin lama patahan pada tongkatnya terbuka, semakin banyak pula kekuatan inti apinya yang terbuang.

“Kembalikan tongkatku, bajing jelek! Kembalikan!!”

“Kejar aku dulu kalau bisa.” tantang Barnabas yang langsung berlari mendekati pinggir sungai lebar yang membelah hutan.

“Sial!” Sindel mengejarnya terengah-engah.

Di tepi sungai, Barnabas berbalik.

“Kau menginginkan tongkat ini, nenek tua?”

“Kembalikaaan!!”

“Ambil saja sendiri!” katanya melemparkan tongkat itu sekuat tenaga ke tengah sungai. Asap mengepul hebat saat tongkat berinti api itu menyentuh permukaan air.
Sindel semakin panik. Dia mulai mengerti rencana seperti apa yang disusun oleh kedua binatang itu. Inti pada tongkatnya berasal dari elemen api. Sehingga tentu saja air akan memusnahkan seluruh kekuatannya.

“Tongkatku!” jeritnya.

Tanpa pikir panjang dia langsung melompat ke sungai yang dalamnya hanya sebatas pinggang. Berusaha secepat mungkin meraih tongkatnya yang tidak tenggelam dan hanya mengapung di permukaan air. Usahanya tidak sia-sia. Meski sudah setengah terbenam, tongkatnya belum sepenuhnya mati. Sindel menyeringai. Buru-buru meluruskan patahannya untuk mencegah percikan api terus bermunculan.

“Hahaha, tongkatku selamat! Tongkatku selamat!” Sindel berteriak girang. Matanya tajam menatap Barnabas. “Rencanamu gagal bajing jelek! Kau dan monyet itu gagal! Tongkatku masih hidup. Awas saja! Rasakan pembalasanku!”

“Siapa bilang rencanaku gagal? Justru kau yang baru saja masuk ke dalam perangkapku. Memangnya kau tidak sadar di mana kau berada sekarang?” balas Barnabas keras

“Apa maksudmu?” Sindel bingung. Matanya menatap sekeliling. Beberapa batang pohon sudah mengepungnya dari segala arah. Keningnya berkerut. Batang pohon? Seingatnya sungai ini hanya dipenuhi oleh buaya-buaya buas yang haus darah. Jadi sejak kapan ada begitu banyak batang pohon di sini?

Eh? Batang pohon?

Tunggu dulu!

Sindel pucat. Dia menyadari sesuatu. Yang sedang mengelilinginya... itu BUKAN batang pohon!!

“Aaaaaaakh!”


Related Post:

0 Comment:

Post a Comment

Search Site