Cerita ini diikut sertakan pada: Kontes Cerita Pendek Vandaria 2011
Sebenarnya Vindex sudah lupa kapan terakhir kali dia mengunjungi Sarang 1000 Minuman. Mungkin empat atau lima tahun yang lalu. Entahlah. Meskipun dia lahir di Thier Blackend, namun rasanya dia jarang sekali menginjakkan kakinya ke salah satu kedai minuman terkenal di ibukota kerajaan Blackmoon ini. Suasana kedai yang hiruk pikuk membuatnya tersenyum lebar. Kelihatannya waktu tak banyak merubah tempat ini. Suasana kedai ternyata masih sama seperti yang bisa diingatnya dulu.
Pandangannya berputar ke segala arah. Memperhatikan orang-orang atau frameless yang tengah asyik menikmati minuman mereka. Beberapa terlihat kesal karena pesanan minuman mereka tak kunjung datang. Teriakan-teriakan seperti ‘Hoi! Mana minuman Badai Jofur-ku!’ atau ‘Pelayan! Tambah lagi Angin Hormuzd-nya!’ sesekali terdengar di antara riuhnya percakapan orang-orang.
Sepasang bola mata Vindex yang berbeda warna kemudian tertuju ke salah satu sudut kedai. Di sana, seorang lelaki berjubah hitam kelihatan sedang asyik menikmati minum ditemani sepasang wanita cantik. Lagi-lagi bibirnya tersenyum lalu dia melangkah mendekati mereka tanpa ragu-ragu.
“Halo, William. Lama tak bertemu ya?”
Lelaki yang dipanggil William itu menoleh. Seketika saja raut wajahnya langsung berubah saat mengetahui siapa yang memanggilnya.
“Vindex? Ya ampun! Sedang apa kau di sini?”
“Boleh aku duduk?”
“Tidak! Tidak! Pergi sana. Kau bisa merusak selera minumku.”
“Terima kasih.” katanya tak perduli. Menarik kursi dan ikut duduk bersama mereka. Kehadirannya membuat kedua teman wanita William terpana. Ini memang bukan pertama kalinya mereka melihat seorang half-frameless. Namun perawakan Vindex yang tenang, kalem, serta mengenakan kacamata layaknya seseorang yang terpelajar membuat keduanya kagum. Ada aura misterius yang terpancar dari tubuhnya. Dan para wanita sangat senang dengan sesuatu yang berbau misterius.
“Siapa nama temanmu ini, Willy sayang?” tanya satu dari mereka penasaran
“Vindex. Vindex Beaudrix.” jawab Vindex memperkenalkan diri tanpa diminta.
“B-Beaudrix?” kedua wanita itu melotot. Kalau tidak salah, Beaudrix adalah salah satu dari tiga klan bangsawan yang sangat terkenal di Thier Blackend.
“Beaudrix yang bangsawan itu?” tanya mereka curiga. Karena pakaian yang dikenakan Vindex begitu sederhana. Sama sekali tidak menyiratkan jika dirinya berasal dari golongan berdarah biru.
“Begitulah.”
“Wah, ternyata kau anak orang kaya.” kedua wanita itu buru-buru menarik kursi dan memilih untuk duduk di sampingnya. Sambil memasang wajah genit mereka berkata, “Kau tahu, malam ini kami berdua sedang kosong. Bagaimana jika kita bersenang-senang?”
“Oi! Oi!” William jadi kesal. “Kenapa kalian berdua malah jadi mendekatinya? Bagaimana denganku?”
“Bayaranmu selalu kurang!” tukas mereka
“APA!!”
“Maaf nona-nona, aku sedang ada bisnis penting dengan temanku. Jadi bisakah kalian meninggalkan kami berdua? Aku mohon.” kata Vindex sambil menyerahkan beberapa keping emas kepada keduanya.
“Tentu saja, tampan.” kata mereka nyaris bersamaan, “Dan jika urusanmu sudah selesai, panggil kami lagi ya. Kami selalu punya waktu untuk pemuda tampan dan kaya sepertimu.”
Vindex hanya tersenyum simpul.
“Puih! Pemuda tampan apanya!” gerutu William setelah kedua wanita itu pergi. Pandangannya kemudian beralih penasaran. “Ngomong-ngomong kenapa kau bisa ada di sini? Aku dengar kau pergi belajar ke Republik Teraniya.”
“Memang. Namun mendadak saja aku dipanggil pulang oleh keluargaku. Ada sedikit masalah.”
“Masalah? Masalah apa?”
“Kau kenal Juliet kan? Sepupuku?”
“Juliet?” William mengingat-ngingat. “Ah ya, gadis manis berambut coklat itu?”
“Benar.”
“Ada apa dengannya?” tanya William sambil menenggak bir
“Dia mencoba bunuh diri.”
Pppfffftt!!
“APA?” William kaget. Seluruh minuman dalam mulutnya tersembur keluar. “Dia... dia mencoba bunuh diri? Kenapa?”
“Masalah sepele sebenarnya. Urusan cinta.” kata Vindex sambil mengelap mukanya yang basah gara-gara semburan tadi. “Dia menjalin hubungan asmara dengan seseorang dari klan Aeroquin. Namun hubungannya itu tidak direstui. Apa boleh buat, klan Aeroquin adalah klan frameless murni. Mereka sangat menjunjung tinggi pernikahan antar frameless dan menentang selainnya. Itulah sebabnya kenapa keluarga mereka tidak setuju jika anak mereka menjalin hubungan dengan sepupuku yang merupakan half-frameless.”
“Menggelikan sekali!”
“Yah, bahkan di masa seperti sekarang ini, masih ada saja keluarga frameless berdarah murni yang terlalu terpaku pada tradisi kuno.”
“Lalu bagaimana dengan Juliet? Apakah dia...”
“Dia masih hidup. Untungnya. Keluargaku menggunakan segala macam sihir untuk menyelamatkannya. Namun bahkan kekuatan sihir pun ada batasnya.” Vindex menghela nafas,
“Nyawa Juliet selamat tapi seluruh badannya lumpuh. Sama sekali tak bisa digerakkan.”
“Oh ya?”
“Menurut para sesepuh keluargaku, satu-satunya ramuan yang bisa menyembuhkan kelumpuhannya adalah ramuan Singa Merah.”
“Ramuan Singa Darah?”
“Singa Merah.” kata Vindex membetulkan, “Ramuan itu adalah ramuan sihir kuno yang menggunakan jantung Manticore sebagai bahan utama.”
“Manticore?” William melotot. Meski pun belum pernah melihatnya secara langsung, namun dia tahu betul monster seperti apa Manticore itu. Seekor singa berbadan besar yang memiliki sayap lebar seperti kelelawar raksasa. Ekornya panjang dan melengkung laksana kalajengking. Soal racun sih jangan ditanya. Cakar, kuku dan ujung ekornya memiliki racun yang puluhan kali lipat lebih mematikan dibanding racun ular kobra.
“Kau tahu kan, bagi keluargaku uang sama sekali bukan masalah. Yang penting kami bisa mendapatkan jantung Manticore itu. Masalahnya, kami tak bisa menemukannya dijual di mana pun. Bahkan di pasar gelap.”
“Masa sih?”
“Tidak heran juga. Karena jantung Manticore adalah bahan yang sangat jarang dicari. Peminatnya sedikit sehingga nyaris tidak ada pedagang yang mau menjualnya.” tutur Vindex.
“Oh begitu.” William manggut-manggut lalu menenggak birnya lagi.
“Oleh karena itulah, aku dipanggil pulang oleh kedua orang tuaku – atas permintaan pamanku tentunya. Mereka memintaku untuk pergi ke negeri Ligan dan memburu seekor Manticore.”
Pppfffftt!!
“APA KATAMU?!!”
“Mereka memintaku,” Vindex mengelap lagi mukanya yang basah untuk kedua kalinya, “Untuk pergi ke negeri Ligan...”
“Ya, ya, ya! Aku tahu soal itu! Tapi bukan begitu maksudku. Maksudku adalah...” William menatap tajam mata sahabatnya, “Jangan bilang kalau maksud kedatanganmu ke sini adalah...”
“Untuk mengajakmu. ”
“Aha! Sudah kuduga, hahaha.” William tertawa senang. Dia tertawa seperti orang gila. Semakin lama semakin keras lalu tawanya berhenti sama sekali.
“TIDAK MAU!!” tolaknya tegas sambil menggebrak meja.
“Kenapa? Jarang-jarang kan kita bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat Manticore dari dekat. Binatang itu lucu, kau tahu? Ekornya panjang, melengkung dan sangat indah. Sebenarnya jika ayahku mengijinkan, aku ingin sekali memeliharanya barang satu atau dua ekor.”
William bengong. Yah, jika ada satu-satunya half-frameless di Vandaria yang menganggap monster seperti Manticore adalah binatang lucu, maka Vindex-lah orangnya.
“Pokoknya aku tidak mau ikut! Pergi berpetualang denganmu adalah musibah! Bencana! Malapetaka!”
“Kau ini bicara apa sih? Tidak usah dilebih-lebihkan begitu dong.”
“DILEBIH-LEBIHKAN KATAMU?” William semakin murka, “Terakhir kali kita pergi bersama, kau bilang kau ingin mencari kuku Gryphon. Tapi apa yang terjadi? Kita diserang Ogre, Troll, Goblin, Orc, dan... hantu berjubah hitam itu... apa sih namanya?”
“Wraith?”
“WRAITH! Benar!” William mengamuk berapi-api. “Kau telah MENIPUKU!”
“Rasanya aku tidak menipumu.” kata Vindex dengan ekspresi tak bersalah, “Saat itu aku benar-benar ingin mendapatkan beberapa potong kuku Gryphon. Untuk koleksi.”
“Tapi kau TIDAK bilang kalau untuk mencapai sarang Gryphon itu, kita HARUS melewati lereng pegunungan yang dipenuhi semua monster mengerikan itu!”
“Kenapa waktu itu kau tidak bertanya?”
“KAU!!” William mendengus keras. Napasnya tersenggal-senggal seperti baru saja berlari puluhan kilo. “Pokoknya aku tidak mau ikut. Kau cari orang lain saja!”
“Ayolah, kita kan sudah berteman lama. Masa kau tidak mau membantuku?”
“Sekali tidak TETAP tidak! Aku ini lelaki sejati! Dan seorang lelaki sejati pantang untuk menarik kembali kata-kata yang telah diucapkannya!” tegasnya sambil menenggak habis bir dinginnya
Vindex mengeluarkan secarik kertas yang telah diberi cap khusus klan Beaudrix.
“Pamanku bersedia membayar sepuluh ribu keping emas bagi siapa saja yang bisa membawakan jantung Manticore padanya.”
Pppfffftt!!
***
Seminggu kemudian, Vindex memulai perjalanan panjangnya menuju negeri Ligan yang terpencil. Seperti juga petualangan-petualangan sebelumnya, Vindex tak lupa mengajak Fio. Seekor serigala double-tail peliharaannya yang sangat setia. Jangan pernah tertipu dengan bentuknya yang mungil, lucu dan menggemaskan. Seperti layaknya para binatang double-tail lain, Fio pun mampu merubah wujudnya menjadi lebih besar jika ada yang berani mengganggu tuannya.
Dalam perjalanan itu William sedikit cemberut karena ternyata Vindex juga mengajak Paul. Salah satu saudara jauhnya yang merupakan seorang frameless murni. Bukannya dia membenci kaum bermuka pucat dan berambut keperakan itu sih, hanya saja berdasarkan pengalamannya dulu, Paul selalu berhasil menarik perhatian para wanita yang disukainya. Padahal mukanya ketus, dingin dan nyaris tak pernah tersenyum. Ah, dasar para wanita. Apa sih yang mereka lihat dari dirinya?
“Aku baru sadar,” Vindex membuka percakapan sambil mengendalikan kudanya perlahan, “Kau tidak lagi membawa panah silang dipunggungmu. Memangnya senjata barumu itu lebih kuat ya?”
“Tentu saja.” William terdengar bangga, “Aku membelinya dari seorang pedagang gelap di kota Lowways beberapa bulan yang lalu.”
“Mainan seperti itu apa bagusnya.” celetuk Paul
“MAINAN? MAINAN KATAMU!!” William melotot. “Kalau kau tidak tahu apa-apa sebaiknya jangan asal mengoceh. Ini adalah senjata masa depan! Namanya Dregun! Gabungan dari rune berelemen api dan panah silang yang telah diperbaharui. Senjata ini bahkan telah dimantrai khusus oleh seorang frameless berkekuatan tinggi dengan memasukkan jantung Naga Sisik Emas ke dalamnya.”
“Yang namanya mainan sih tetap saja mainan.”
“APA KAU BILANG?!”
“Yang namanya senjata tuh seperti ini.” pamer Paul sambil menunjukkan tangan kanannya yang berlapis emas. Tiga buah cakar tajam tiba-tiba saja keluar dari ujung kepalannya. Berkilat-kilat saat terkena sinar matahari kemudian masuk lagi dengan cepat. “Gloclaw! Terbuat dari tulang-tulang Cyclops yang dicampur dengan ekstrak darah serigala bulan. Anti patah dan sangat cocok untuk pertarungan jarak dekat.”
“Yang seperti itu baru namanya mainan!” balas William sebal
“Orang bodoh mana bisa mengerti.”
“KAU MAU MENGAJAKKU BERKELAHI, HAH?”
Vindex hanya tersenyum geli saja melihat tingkah keduanya. Dia sudah sangat terbiasa dengan William yang sering membentak. Begitu pun dengan sifat saudaranya, Paul, seorang frameless dari klan Ignios (pengguna sihir api) yang lebih senang melakukan pertarungan jarak dekat bahkan nyaris mengabaikan penggunaan sihir. Rasanya senang sekali bisa berpetualang lagi dengan mereka bertiga. Sebuah suasana yang takkan dia dapatkan jika terus berada di dalam rumahnya yang mewah atau belajar di Republik Teraniya yang gersang.
Hampir dua minggu lamanya mereka berkuda menyusuri hutan. Akhirnya mereka pun tiba di sebuah desa kecil bernama Aruni. Di desa itu rencananya Vindex akan membeli beberapa perbekalan – khususnya makanan dan air – sebelum meneruskan perjalanan menuju hutan Redios dan mulai berburu Manticore.
“Itu dia gerbang desanya.” tunjuk Vindex
“Bagus. Karena aku mulai lapar.” keluh William, “Hanya memakan buah-buahan serta daging rusa berbumbu garam sama sekali tidak menyehatkan. Aku perlu makanan yang bergizi. Dan tentunya, segelas bir dingin!”
“Aku sarankan kau jangan terlalu banyak minum bir dulu, Will. Keahlian menembakmu akan menjadi percuma jika kau mabuk.”
“Tidak mabuk pun, aku sangsi kau bisa menembak dengan menggunakan mainan itu.”
“APA KAU BILANG?!”
“Hei, lihat. Ada yang aneh dengan desa itu!” kata Vindex cepat. Matanya melotot kemudian mempercepat laju kudanya.
“A-apa??”
Ketiganya terperanjat saat melihat suasana desa. Desa kecil yang seharusnya cukup ramai itu tampak sepi. Tak terlihat adanya tanda-tanda keberadaan makhluk hidup. Jangankan manusia atau frameless, seekor kucing kecil pun tak terlihat.
“Apa yang telah terjadi?”
“Aneh sekali. Kenapa bisa begini?” Vindex turun dari kuda dan memeriksa setiap rumah yang berderet di pinggir jalan utama. Kosong. Rumah-rumah itu seperti ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.
“Bisakah kau mencium sesuatu Fio?”
Fio menatap tuannya sesaat lalu mengangguk. Hidung mungilnya mengendus-ngendus ke segala arah kemudian dia berlari ke salah satu sudut pekarangan.
“Apa yang kau temukan?” Vindex mendekatinya penasaran. Sedikit percikan darah yang mulai menghitam tersisa di sana.
“Ada apa, Vin?”
Vindex tidak menjawab. Dia meneliti bekas darah itu dengan kening berkerut. Mencolek sedikit dengan ujung jarinya dan merasakannya dengan lidah. Matanya langsung melotot.
“Groniak!” desisnya setengah tak percaya.
“APA?!”
***
Mereka bertiga memacu kudanya semakin cepat ke arah selatan. Menuju sebuah desa lain bernama Nigal. Namun lagi-lagi mereka disuguhi pemandangan yang sama. Desa Nigal pun sepi. Sama sekali tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan.
“Bagaimana?”
“Persis seperti desa Aruni.” desah Vindex, “Aku mencium jejak belasan Groniak tersebar di desa ini. Beberapa jejaknya bercampur dengan darah satu-dua orang manusia.”
“Mengerikan sekali. Jadi kedua desa ini diserang Groniak?”
Vindex membetulkan letak kacamatanya. Gayanya yang khas jika sedang berpikir keras.
“Apa kau pernah berhadapan dengan Groniak sebelumnya, Will?”
“Ya. Satu kali.” William mengangguk. Mana mungkin dia bisa lupa dengan pengalaman buruknya bersama belasan pemburu hadiah lain tiga tahun lalu. Waktu itu mereka diserang sekelompok Groniak yang haus darah. Monster berbadan besar seperti gorila yang memiliki empat buat tangan dengan cakar-cakar panjang.
“Kalau begitu kau pasti mengerti keanehan yang terjadi di kedua desa ini bukan?”
“Eh? Keanehan?” kening William berkerut.
“Groniak adalah monster yang brutal. Jika mereka menyerang penduduk di suatu desa, maka seharusnya kondisi desa yang kita lihat tadi hancur berantakan. Namun kenyataannya, kedua desa itu – yah, untuk ukuran desa yang telah diserang oleh Groniak, tampaknya terlalu rapi. Begitu maksudmu, Vin?” tebak Paul
William melotot. Kenapa dia tidak menyadari hal sesederhana itu?
“Kurang lebih.” gumam Vindex pelan, “Setahuku Groniak adalah monster pemburu yang menjadikan kegiatan memburu dan makan sebagai satu kesatuan. Mereka bukan jenis monster yang senang mengumpulkan bahan makanan dan menumpuknya di dalam sarang mereka. Makanya aku bilang, kondisi kedua desa ini aneh sekali.”
William mengangguk-ngangguk. Setengah mati mencoba mencerna kata-kata Vindex. Kemudian dia bertanya, “Bahan makanan apa maksudmu?”
“Jika kedua desa itu benar-benar diserang Groniak, seharusnya kita menemukan banyak potongan mayat di seluruh penjuru desa.” kata Paul tak sabar. “Katanya kau pernah berhadapan dengan Groniak? Masa kau tidak tahu cara mereka makan?”
Lagi-lagi William melotot. Dia ingat sekarang. Groniak memang bukan monster yang membunuh mangsa terlebih dahulu, baru memakannya. Mereka cenderung lebih senang ‘mempermainkan’ mangsanya sebagai bagian dari kegiatan makan. Mereka senang mencabik sebagian tubuh mangsanya, lalu memakannya sambil membiarkan mangsa kabur. Setelah itu mereka mengejarnya lagi, mencabiknya lagi, dan membiarkannya kabur lagi. Begitu seterusnya sampai sang mangsa mati karena satu per satu bagian tubuhnya dimakan. Biasanya sih, Groniak sudah tidak mau lagi memakan bagian tubuh mangsa yang sudah mati.
“Ta-tapi tunggu dulu... kalau begitu yang terjadi di sini,” William mencoba membuat sebuah teori, “Para penduduk desa melarikan diri karena diserang sekelompok Groniak?”
“Itu tidak mungkin.” bantah Paul, “Jika yang melarikan diri semuanya adalah para ksatria masih bisa. Tapi jika di dalamnya ada wanita dan anak-anak? Mereka semua pasti sudah mati sebelum sempat melarikan diri.”
“Lalu apa?” William bingung, “Masa ada sekolompok Groniak yang menculik para penduduk dan membawa mereka ke sarangnya? Kau dengar sendiri apa kata Vindex. Itu bukan kebiasaan mereka.”
“Kecuali jika para Groniak itu memang bertindak di luar kebiasaan mereka.” gumam Vindex pelan. Membuatnya seketika menjadi pusat perhatian.
“Apa maksudmu?”
***
Selain dua desa sebelumnya mereka pun menemukan hal yang sama di tiga desa yang lain. Hal itu membuat Vindex memutuskan untuk menyelidiki hutan Blake. Karena menurutnya, semua kejadian aneh tadi berhubungan dengan hutan besar yang mengelilingi desa-desa itu.
“Masih segar.” gumam Vindex sambil mengendus beberapa bekas rumput yang terinjak.
“Ada banyak goa besar di dekat sini. Sepertinya goa batu-batu hitam ya?” kata Paul sambil melayangkan pandangan ke segala arah. “Karena sensasi sihir yang kurasakan agak sedikit kabur.”
“Tempat yang cocok bagi seseorang yang ingin bersembunyi bukan?” kata Vindex dingin. Mendadak saja Fio menggeram-geram. Kebiasaannya jika sedang menghadapi sebuah bahaya. Vindex pun langsung waspada.
“Ada yang datang.” kata Paul sambil menghunus pedangnya. Sebilah Flamehart. Pedang panjang khas klan Ignios yang mengandung elemen api.
“Itu mereka. Kelihatannya kita sudah diintai sejak kemarin.”
“Aku benci dengan monster-monster itu.” gerutu William yang sudah bersiap dengan sepasang Dregun di kedua tangannya.
Dari balik rimbunnya pepohonan, makhluk-makhluk bertubuh besar itu bermunculan dengan langkah berat. Mereka melotot begitu ganas. Empat buah tangan yang mereka miliki tampak bergerak-gerak. Bersiap untuk menerkam sekaligus mencabik.
“Gila... Banyak sekali!”
“Beri aku waktu tiga menit, teman-teman.” kata Vindex. Dia mulai merapal mantera dan seketika dirinya dikelilingi lingkaran sihir berwarna biru.
“TIGA MENIT??” William kesal, “Kenapa lama sekali? Kau mau tidur dengan waktu sebanyak itu?”
“Tidak usah banyak bicara. Pokoknya jangan biarkan mereka mendekati Vindex. Tembak saja mereka semua dengan mainanmu itu!!.” tukas Paul.
“Ini BUKAN mainan!! Ini namanya DREGUN!” teriak William kesal. Kedua tangannya menodongkan senjata ala panah silang itu. Menekan pelatuknya, dan sekejab saja dari ujungnya meluncur sebuah bola api sebesar kacang polong. Bola itu melesat dan perlahan semakin membesar seperti kelapa. Dengan kecepatan yang sangat tinggi, bola itu melaju membelah udara dan menghantam seekor Groniak sampai terpental.
Graaaaa!!
Serangan pertama William membuat mereka mengamuk. Para Groniak itu semakin berang. Mereka berlari bersamaan. Berusaha menerkamnya.
“Rasakan ini, bodoh!!”
Blash! Blash!
Belasan bola api melesat dari Dregun milik William. Kekuatannya luar biasa. Bola-bola itu berhasil membuat para Groniak terpental ke belakang beberapa meter. Sayangnya, meski badan mereka terluka – bahkan sampai hangus – akibat serangannya, namun mereka belum mati. Beberapa Groniak yang ngotot memilih untuk berdiri dan mencoba menyerang sekali lagi.
Aaaaakh!
Di tempat lain, seekor Groniak ambruk mencium tanah terkena serangan Paul. Kombinasi sabetan pedang, tendangan dan serangan cakar yang dilakukannya sangat ampuh dalam menumbangkan mereka. Namun Paul mulai kewalahan ketika belasan Groniak menyerangnya secara bersamaan. Tenaganya kalah jauh.
“Menunduk, Paul!”
“Apa?”
Paul sempat melirik ke belakangnya. Sebuah bola api besar tengah melaju kencang ke arahnya. Dia melotot. Tanpa sempat berpikir, dia buru-buru tiarap. Bola api besar itu pun menghantam beberapa Groniak dihadapannya. Membuat mereka hangus dan terpental ke segala arah.
“Kurang ajar!! Kau mau membunuhku, bodoh?!”
“Berterima kasihlah karena aku telah menyelamatkanmu, brengsek!”
“AWAS!”
William lengah. Seekor Groniak berhasil menghajar kepalanya. Membuat dia melenguh kesakitan. Ketika dia berbalik dan menodongkan Dregun-nya, kedua tangan Groniak itu terlebih dahulu mencengkeram tangannya sehingga dia tak bisa bergerak. Dan satu serangan kepalanya membuat kepala Willam berdengung kesakitan. Darah mengucur dari dahinya.
“Lepaskan aku!!” teriak William kesal.
Groniak itu hendak meneruskan serangannya namun tiba-tiba saja kedua tangannya putus akibat sabetan Flamehart. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, William pun langsung menembaknya dengan Dregun berkali-kali. Sampai Groniak itu terpental jauh sambil terbakar hebat.
“Kita impas!” desis Paul
“Aku bisa mengalahkannya tanpa bantuanmu tahu!”
Seekor Groniak mencoba menyerang Vindex yang sedang berada dalam status-mantera. Namun belum sempat mendekat, Fio sudah menerkamnya terlebih dahulu. Dengan gerakan yang lincah, serigala itu berhasil membuat sang Groniak kewalahan. Bahkan tak bisa berbuat banyak ketika Fio mengigit putus urat lehernya.
Blash! Blash!
William terus menembakkan Dregun-nya membabi buta. Berusaha menjauhkan setiap Groniak yang mendekat. Sebenarnya sudah cukup banyak Groniak yang berhasil mereka tumbangkan. Namun tampaknya, jumlah mereka tak kunjung berkurang.
“Kenapa Vindex lama sekali!!” William mulai panik
“Bersabarlah! Sedikit lagi!” kata Paul terengah-engah. Tenaganya mulai terkuras melayani para Groniak yang ngotot itu.
“Sudah selesai.” kata Vindex tiba-tiba. Seluruh tubuhnya telah dikelilingi sinar kebiruan. Kedua tangannya membentang kemudian belasan sinar meluncur dari ujung-ujung jarinya. Sinar itu menggaris di udara seperti ribuan ekor cacing kemudian menghantam kepala setiap Groniak. Membuat monster-monster itu mendadak diam. Tak bisa bergerak seperti patung. Masing-masing Groniak kemudian melayang sedikit di atas tanah kemudian semuanya jatuh pingsan bersamaan.
“A-apa?!” William melotot. Dia tahu Vindex sangat ahli menggunakan sihir mental. Tapi menggunakan sihir semacam itu untuk membuat pingsan puluhan ekor Groniak sekaligus? Anak itu benar-benar jenius!
“Fiiuuh!”
“Kau baik-baik saja?” tanya Paul.
“Lumayan.” Vindex tersenyum. Sihir yang baru saja dia lakukan telah menguras hampir separuh tenaganya.
“Err... Vin?”
“Ya?”
William menunjuk pada seekor Groniak yang masih berdiri tegap. Satu-satunya Groniak yang tidak terpengaruh sihir Vindex.
“Sudah kuduga.” kata Vindex dingin. Dia menatap Groniak itu galak. “Katakan padaku! SIAPA kau sebenarnya?”
Groniak itu menyeringai. Kemudian membalas dengan nada yang tak kalah ketus. “Justru akulah yang seharusnya menanyakan hal itu kepada kalian.”
William melotot. Ada Groniak yang BISA berbicara? Wah, ternyata tebakan Vindex benar. Ada seorang ahli sihir mental yang telah memanipulasi pikiran semua Groniak itu dan ‘menggunakan’ mereka untuk menculik para penduduk desa.
“Katakan padaku! Siapa kau? Untuk apa kau menculik semua penduduk desa? Dan apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan?”
Groniak itu menggeram.
“Kau terlalu banyak bertanya. Sebaiknya kau mati saja!!” Groniak itu mencoba menyerang mereka namun Vindex lebih cepat. Dia menyerang kedua matanya dengan seberkas sinar berwarna terang.
“Akh!” Groniak itu seketika meraung kesal. Kedua matanya mendadak buta.
“Kurang ajar! Kau...”
“Aku pergi sekarang?” bisik Paul yang dijawab Vindex dengan anggukan.
“Sihir anti-netra murahan! Jangan kau pikir... sihir seperti itu bisa menghentikanku!!” Groniak itu menggeliat-geliat kemudian seberkas cahaya merah menyala dari kedua matanya. Terang sekali. Dia pun menyeringai penuh kemenangan.
“Aku masih bisa melihatmu, guhahaha!”
“Will? Bisa beri aku lima menit.” pinta Vindex.
“Huh! Kalau tinggal satu monster begini, satu jam pun tidak masalah.” tukas William yang sudah bersiap dengan Dregun di tangannya.
Groniak itu kemudian berlari cepat. Mencoba menerkam Vindex. Namun Willam terlebih dahulu menghadangnya dan menembakkan belasan bola api. Semua bola api itu mengenai Groniak dengan telak. Namun alih-alih terpental seperti yang lainnya, Groniak itu hanya mengerang pendek dan terus menyeruduk maju.
“APA?”
Brugh!
William yang tak menyangka serangannya dapat dipatahkan semudah itu, terpelanting beberapa meter saat diseruduk olehnya.
Groniak itu menggeram senang. Dia lalu menatap Vindex yang sedang berdiri sambil dikelilingi lingkaran sihir berwarna kelabu. Dia pun terkekeh. Ketika seorang pengguna sihir mental sedang merapal mantera dan berada dalam status-mantera, maka saat itu merupakan saat yang paling tepat untuk membunuhnya.
“Matilah kau!!” teriaknya sambil melayangkan cakarnya. Namun Fio terlebih dahulu menerkamnya sampai terjerembab.
“S-serigala jelek!! Lepaskan aku! Cepat!”
Fio dan Groniak itu bergumul hebat. Meski pun sudah dipukul berkali-kali, Fio tak mau menyerah dan terus menyerang. Menggigit, mencakar, dan melakukan apa saja agar Groniak itu tidak bisa berdiri. Usahanya berakhir ketika Groniak itu berhasil mencengkeram lehernya dan melemparnya keras ke arah pepohonan. Fio pun pingsan tak sadarkan diri.
“Serigala tengik!”
“Oi!”
“Ng?”
Groniak itu melotot saat melihat William ternyata masih bisa berdiri walau sudah diseruduk olehnya. Kalau orang biasa, seharusnya beberapa tulang iga dan tulang punggungnya sudah patah.
“Kalau kau mau berkelahi, berkelahilah dengan orang yang sepadan denganmu.” teriak William sambil menodongkan sepasang Dregun-nya.
“Berapa kali pun kau tembakan senjata bodoh itu hasilnya akan sama!”
“A-APA... SENJATA BODOH KATAMU?!” kali ini William benar-benar marah. Waktu itu Paul yang mengatakan kalau senjatanya adalah mainan. Dan sekarang ada lagi yang menyebutnya sebagai senjata bodoh?
Ini benar-benar penghinaan! Tak bisa diterima!!
“Aku beritahukan padamu, brengsek! Senjataku ini namanya adalah DREGUN!!”
Blash! Blash!
William menembakkan Dregun-nya bergantian dengan cepat. Belasan bola api yang melesat dari senjatanya itu kini tidak lagi bergerak lurus melainkan melenggok seperti ular. Masing-masing berputar cepat kemudian saling menyatu. Dan alih-alih berubah menjadi bola api yang ukurannya lebih besar, bola-bola tadi malah menjelma menjadi seekor naga api. Naga yang meliuk-liuk di udara dan bergerak cepat bagai seekor pemburu.
“APA?”
Belum sempat Groniak itu menyadari apa yang terjadi, naga api itu sudah menerkamnya. Mendorongnya begitu keras sekaligus membakar seluruh tubuhnya sampai hangus. Groniak itu kemudian terpental jauh sekali. Kemudian meledak dengan suara yang menggelegar. Ledakan yang bahkan ikut menghancurkan belasan pohon besar yang tumbuh di sekitarnya.
William tersenyum puas sekali.
“Masih berani menyebut senjataku sebagai senjata yang bodoh, hah?” dengusnya. Dia lalu mendekati Vindex yang masih berada dalam status-mantera.
“Vin? Aku rasa kau sudah bisa bangun. Tidak perlu lagi merapal mantera. Monsternya sudah kubunuh. Oi? Vin? Vindex?”
***
“Kurang ajar!!” tukas frameless itu kesal saat Groniak terakhirnya tewas. “Tak bisa kupercaya. Aku bisa dikalahkan hanya dengan sebuah senjata rune murahan! Bagaimana ini? Aku tak bisa melaporkan kejadian ini kepada Tuan Besar. Mereka harus kubunuh semuanya. Mereka tahu terlalu banyak. Eh? Apa ini?”
Frameless itu keheranan saat menyadari jika di tempatnya berpijak terdapat sebuah lingkaran sihir berwarna kelabu. Lingkaran itu terus mengikutinya kemana pun dia melangkah.
“Loh? Ini?” dia kebingungan. Sensasi sihirnya sih mirip dengan sihir anti-netra. Tapi jelas sihir itu bukanlah sihir pembuta mata yang biasa. “Sihir apa ini?”
“Sihir Jejak Serigala.”
“APA?”
Frameless itu terlonjak kaget saat melihat Paul sudah ada di belakangnya. Padahal dia sudah sangat yakin jika takkan ada seorang pun yang bisa mengetahui dirinya bersembunyi di dalam goa besar ini. Dia buru-buru menodongkan tongkat sihirnya.
“B-bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?”
Paul menunjuk lingkaran sihir yang mengelilinginya.
“Aku hanya mengikuti darimana datangnya sensasi sihir itu.”
Frameless itu pucat. Dia baru sadar kalau lingkaran sihir yang mengikatnya itu memang mengadung sensasi yang sangat kuat. Membuat siapa saja yang diikatnya menjadi sangat mudah untuk dilacak.
“T-tapi sihir ini...”
“Tidak heran jika kau nyaris tak menyadarinya. Sihir Jejak Serigala memang bukan sihir biasa. Sihir itu tak pernah ada di dalam buku sihir mana pun. Sihir itu adalah salah satu dari sekian banyak sihir yang diciptakan oleh saudaraku.”
Lagi-lagi frameless itu melotot. Ada frameless yang bisa menggunakan sihir, itu biasa. Tapi frameless yang bisa menciptakan sihir sendiri? Itu baru luar biasa! Siapa saudara yang dimaksudkannya itu? Tunggu! Jangan-jangan pemuda berkacamata tadi? Tapi kalau tidak salah..., bukankah dia HANYA seorang half-frameless?
“Nah, sekarang sebaiknya kita langsung saja masuk ke pokok pembicaraan.” kata Paul sambil menghunus pedangnya. “Siapa kau sebenarnya dan apa rencanamu dengan menculik para penduduk desa itu?”
Frameless itu tidak menjawab. Dia malah meneliti sosok Paul di depannya, terutama pedang api yang dihunusnya.
“Kau dari klan Ignios bukan?”
“Cepat jawab pertanyaanku.”
Frameless itu hanya terkekeh. Dia lalu merapal sebuah mantera, dan tiba-tiba saja seisi goa menjadi gelap. Cahaya seolah lenyap ditelan bayangan
“Apa?” Paul lengah. Dia tak menyangka frameless itu akan menggunakan cara yang licik seperti ini. Dia berpikir cepat lalu menancapkan pedangnya di tanah. Tak berapa lama, pedangnya berpijar terang. Menerangi seisi goa.
“Rasakan ini!” teriak si frameless sambil membombardir lokasi di dekat pedang tadi dengan mantera serangan. Sinar-sinar beraneka warna menyerangnya disertai suara ledakan-ledakan yang dahsyat.
Frameless itu semula terlihat senang karena siasatnya berhasil. Namun wajahnya berubah saat melihat tak ada siapa pun di dekat pedang Flamehart yang tertancap itu.
“A-apa?”
“Kau membuatku marah.” desis Paul yang sudah berada di berada di belakangnya.
“Hah? Sejak kapan kau...”
Jleb!
Cakar Gloclaw telak menusuk jantungnya. Membuat dia meringis kesakitan.
“T-tak mungkin.” Frameless itu pucat. Dia benar-benar tidak menyangka akan diserang dengan senjata cakar seperti itu. “Kau... kau dari klan Ignios. Seharusnya....”
Frameless itu tak sempat meneruskan ucapannya dan langsung ambruk di tanah. Tewas seketika. Kegelapan pun mendadak lenyap. Dan cahaya remang-remang di dalam goa kembali seperti sedia kala. Paul hanya menatapnya sambil menggeram sebal.
“Tidak semua keluarga Ignios suka menggunakan sihir, bodoh!”
***
William mengusap peluh sambil terus menggali. Nafasnya sedikit tersenggal. Namun dia rela melakukannya demi mengubur puluhan mayat yang ditemukan dalam goa yang dimasuki Paul. Baik hati? Tidak juga. Alasan utamanya adalah: Vindex bersedia membayar 10 keping emas untuk setiap satu kuburan yang digalinya.
“Coba kau lihat ini.” kata Vindex sambil menyerahkan secarik kertas yang telah digambarnya kepada Paul
“Apa ini?”
“Lingkaran Sihir Prajurit Hantu. Aku sempat melihatnya dalam pikiran frameless itu ketika sedang mencoba mendeteksi keberadaannya.”
“Mustahil.” Paul tak percaya, “Sihir itu seharusnya sudah punah bersamaan dengan jatuhnya negeri Edenion.”
“Frameless yang telah kau bunuh itu,” Vindex terdengar sedikit kecewa karena seharusnya Paul menginterogasinya terlebih dahulu, “Aku rasa bekerja pada seorang frameless lain. Yang lebih tangguh, dan lebih kuat. Frameless yang menguasai sihir kuno dan juga sangat paham dengan bahasa Edenion.”
Paul diam tidak menjawab.
“Tapi dengan kenyataan ini, satu pertanyaanku telah terjawab.” kata Vindex, “Kelihatannya ada seseorang yang sedang mencoba membangun prajurit kegelapan dengan menggunakan mayat-mayat yang masih segar.”
“Untuk apa?”
“Itu pertanyaan yang bagus. Sayang, aku tak punya jawabannya. Hanya saja, dari pikirannya aku berhasil mendapatkan satu nama. Chestea.”
“Chestea? Siapa lagi itu?” tanya Paul
Vindex mengangkat bahu.
“Entahlah. Tak banyak yang bisa aku dapatkan dari pikirannya. Selain nama itu, dan sepasang menara iblis.”
Paul melotot.
“Sepasang menara iblis? Menara itu kan berada di negeri Pandora!”
“Begitulah.”
Keduanya pun lalu terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing sambil terus memperhatikan William yang sedang menggali dibantu Fio.
“Chestea dan negeri Pandora. Kira-kira apa hubungan keduanya?”
“Soal itu kita cari tahu saja nanti. Sekarang, aku rasa sebaiknya kita kembali fokus pada tujuan awal perjalanan kita.” jawab Vindex pelan.
Paul pun menghela nafas panjang.
“Berburu Manticore?”
“Ya, berburu Manticore.”
Dibalik wajahnya yang serius dan dingin,
lelaki kelahiran 19 Juni 1982 ini
ternyata merupakan seorang yang humoris.
Kegemarannya pada dunia fantasi dan
komedi membuatnya terobsesi untuk menulis
berbagai cerita yang ringan, lucu sekaligus
menegangkan. Ayah dari satu anak ini
bekerja sebagai engineer di salah satu
perusahaan industri pesawat terbang.
Dia juga aktif mengajar dan sedang
menyelesaikan proyek novel perdananya.






0 Comment:
Post a Comment