Sebuah novel yang akan membuatmu gemetar! Yup! Bener banget, novel ini bisa membuat siapa saja yang membacanya gemetar. apalagi kalau bacanya pagi-pagi di tempat sepi pas kebelet pipis. Dijamin gemetar!! Nah, sodara2 sekalian, sebangsa tanah, dan sebangsa air, tanpa berpanjang pendek berluas lebar, marilah kita memulai review salah satu novel fantasi karya anak bangsa yang satu ini.
Ehm. Judulnya bagus. Valharald. Covernya bagus. Tebal. Dan harganya bagus. 50 ribu. Beli di togamas dapet korting 20%. Kualitas kertasnya bagus. Putiiiiih. Kayak habis disikat sama odol. Isi ceritanya bagus. Ada berantem2nya gitu. Keren. Singkatnya, novel ini bagus. Demikianlah review dari saya. Sekian dan terima kasih.
W*** T** F***!
Review macam apa ini?????? Pasti lo semua mau pada bilang gitu kan? Eh, ini blog, blog gue! Gue mau nulis apa kek, itu terserah gue. Kenapa lo yang sewot??
*tapi jangan gitu amat bos. Yang namanya repiew kan kudu pedes. Sakit kayak ditabok polwan gitu! Propesional dikit kek, bikin review!!*
Oooh, gitu. Bikin repiew nopel kudu ngenes menyayat perih berlapis lara ya? Ok. Kalau begitu, repiewnya diulang.
Ehm. Judulnya jelek. Valharald, mestinya Valharald & The Sorceres Stone. Covernya jelek. Terlalu tebal. Dan harganya jelek. 50 ribu. Dikorting 20% juga masih mahal. Bagusnya gratisan aja. Kualitas kertasnya jelek. Putih. Harusnya warna warni kayak pelangi. Isi ceritanya jelek. Nggak ada romantis2an sama cium2annya. Jelek. Singkatnya, novel ini jelek. Demikianlah review dari saya. Sekian dan terima kasih.
*dilempar setrikaan sama pengarangnya: syuuuuuung.... PLETAAK!!!*
Aduuuuh, kenapa sih, begini salah begitu salah? Gue kan bukan reviewer, jadi kagak tahu gimana kuduna ngereview novel?? *kucluk! kucluk!* seekor monyet berhidung belang tiba2 datang, dan dia berkata, "Bos, lo mau tahu gimana caranya supaya bisa ngereview novel?" Weits! Ada monyet yang mau ngajarin gue. Yah, secara gue emang telmi, gue ngangguk. "Hu uh. Gue mau banget, nyet. Gimana caranya?" Monyet itu memandang gue dengan serius, terus bilang, "Supaya lo bisa ngereview sebuah novel, syaratnya ada satu!" katanya mantap. "Apa tuh?" kata gue bilang. "Ya lo mesti baca dulu novelnya lah...."
Tuiiiiiiiiiiing..... BLEDAAAAR!!!
Oalah, ternyata begitu sodara2. Pantesan gue kagak bisa bikin review. Orang gue kagak pernah baca novelnya? wkwkwkwkw.
*dilempar sepatu sama pengarangnya: syuuuuuung.... Eit! Untungnya gue ngeles!! Hahaha, ga kena!! ga kena... PLETAAAK!!! Gue dilempar pancii sama tetangga sebelah. Rupanya sepatu yang tadi nyasar, dan nimpuk kepalanya....*
Mode serius on:
Oke, now let's begin the review!!!!
Eng.. Ing.. Eng...
Kita mulai dari poin plus. Novel ini secara keseluruhan bulat. Dalam artian, memiliki sebuah plot utama yang menjadi benang merah cerita yang kokoh, dan konsisten. Terlihat dari bab pertama, yang langsung memasukan inti dari novel secara keseluruhan sehingga yang baca langsung "ngeh" dan langsung paham "ini novel mau nyeritain apaan sih?". Sekedar tips (ini juga gue denger dari temen), novel fantasi yang bagus itu cukup dilihat dari BAB PERTAMA. Kalau bab pertamanya muter2 kayak layangan lele, nggak jelas ceritanya apaan, udah pasti itu novel parah abis! Novel yang bagus adalah novel yang bab pertamanya bagus!! Langsung menghentak, menohok, menonjok, membanting, dan menendang pembacanya!! (Sadis kan?).
Terus dari segi narasi, dan deskripsi untuk seting tempatnya juga bagus. Pemilihan diksi baik dan tidak berlebihan. Khas novel fantasi. Untuk soal dialog pun sangat rapi. Adegan brantemnya juga lumayan, nggak terlalu detail layaknya cerita2 silat, tapi cukup bisa dinikmati. Dan satu hal yang menonjol lainnya, adalah banyaknya kalimat2 "menggetarkan" yang disisipkan di seluruh novel dalam bentuk dialog tokoh.
Sekarang kita masuk ke poin minus. (ng, kok muke lo semua jadi pada semangat gitu sih?? Ngeri gue lihatnya...) Plotnya aneh. Kontradiksi dengan poin plus mengenai plot yang bulat. Dikisahkan, ada senjata2 dan baju besi luar biasa milik 12 ksatria talismandala yang disimpan di tempat rahasia. Sampai sini sih ga masalah. Semua senjata itu katanya bisa digunakan untuk melawan kekuatan kegelapan. Ok, I like that part. Terus, ada 12 kunci yang harus digunakan untuk membuka tempat penyimpanan senjata2 itu. Ini juga asyik. Kunci2 itu dikasih/disebar ke keturunan ksatria secara turun temurun. Fine. Dan orang2 itu sudah tersebar entah di mana, bahkan ada beberapa pewaris kunci yang sama sekali ga tahu kalau kalung yang dia pake adalah kunci hebat. Nah loh????? Ini sih sama aja kita bikin nuklir, yang bisa diaktipin sama handphone, terus handphone kita kasih ke keponakan kita yang masih SD. "De, de..., simpan baik2 handphone ini ya, jangan dijual apalagi di banting. Handphone ini bisa ngaktipin nuklir loooh!" DANG!!
Nitip handphone sedahsyat itu kok ke anak SD???
Untuk senjata hebat sekelas ksatria Talismandala, seharusnya kunci2 itu dikasih ke orang2 yang tepat, dan mereka SEJAK AWAL udah tahu itu kunci buat apaan. Jadi ngejaga kuncinya serius. Lah ini? Masa ada yang ngejaga kunci nggak bisa berantem? Gue lupa namanya siapa. Eria, Erin, atau siapalah. Lupa. Pokoknya aneh banget menurut gue cewek yang itu (atau jangan2 di sekuel keduanya dia adalah seorag penyihir yang sakti). Sayang. Padahal, idenya udah bagus banget, cuman pas bagian logika fantasinya malah jeblok. Terus kalau memang inti ceritanya soal kunci, ngapain orang2nya kudu ikut sagala? Sampe ikut2an perang? Kan cuma butuh kuncinya doang?? Terus yang rada gawat adalah 12 karakter. Waduuuh, beneran dah. Gue sampe pusing nginget2 namanya. Padahal di bab2 awal, gue udah seneng, pas Valharald nyari si Cucu... (Aduh namanya siapa sih?) ya, pokoknya pas mereka berdua ketemu, dan berantem, waaah, mantep tuh. Kayak model2 game RPG ceritanya. Tapi pas pertengahan malah karakter yang lain, karakter yang lainnya lagi, dan..... weeeeh, banyaaak amat cerita orang2nya? Perangnya malah dikit??
Untuk soal penokohan, pewatakan, dan karakter, gue ga bisa ngomong banyak. Soalnya, ilmu gue belom nyampe sana, wkwkwkwk.
Jadi ga bisa komen macem2 soal itu.
Anyway busway cutbray, novel ini sebenarnya menarik untuk disimak, apalagi buat mereka yang senang dengan cerita-cerita fantasi ala Lord of The Ring. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, karya ini bisa dijadikan pedoman buat lo-lo semua yang pengin berkecimpung di dunia novel fantasi. Terutama pada bagian : "membuat karya novel fantasi yang serius"
Siapa yang bilang bikin novel fantasi itu gampang? Gue aja udah bikin 4 naskah jeblok semua! Wkwkwkwkwkw.
Demikianlah review dari saya. Sekian dan terima kasih.
Kobarkan Semangat Imajinasi!!
*celingak-celinguk, ada yang nimpuk lagi kah? aman... aman...*
Dibalik wajahnya yang serius dan dingin,
lelaki kelahiran 19 Juni 1982 ini
ternyata merupakan seorang yang humoris.
Kegemarannya pada dunia fantasi dan
komedi membuatnya terobsesi untuk menulis
berbagai cerita yang ringan, lucu sekaligus
menegangkan. Ayah dari satu anak ini
bekerja sebagai engineer di salah satu
perusahaan industri pesawat terbang.
Dia juga aktif mengajar dan sedang
menyelesaikan proyek novel perdananya.







0 Comment:
Post a Comment